Kunjungan Kerja atau Pelatihan BUMDesa, Mana yang Lebih Pas?

0
505

BERDESA.COM – Gempita pendirian BUMDesa di seluruh wilayah nusantara membuat desa menjadi perhatian serius banyak pihak sekarang ini. Soalnya, sebagian besar desa masih belum paham sepenuhnya apa itu BUMDesa dan bagaimana mendirikan BUMDesa menjadi lembaga ekonomi penyokong kesejahteraan desa.

Padahal itu baru langkah pertama, desa masih harus terus berjuang untuk mengidentifikasi potensinya sendiri hingga akhirnya BUMDesa menjadi lembaga yang benar-benar mampu mengangkat potensi desa sebagai motor ekonominya. Banyaknya tantangan yang harus dilalui desa membuat banyak lembaga pemberdayaan desa lalu menyodorkan pelatihan berkaitan dengan BUMDesa.

Pelatihan pendirian BUMDesa memang kebutuhan yang sangat mendesak saat ini bagi desa-desa di seluruh wilayah terutama di berbagai daerah yang jauh dari pusat informasi. Mengatasi sendiri tantangan-tantangan dalam proses pendirian BUMDesa jelas butuh energi besar soalnya BUMDesa belum lama keluar sebagai kebijakan. Maka ada dua cara untuk mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana membangun BUMDesa yakni mengikuti pelatihan atau kunjungan kerja ke desa yang telah berhasil mendirian dan mengembangkan BUMDesa-nya.

Baca Juga  Aneka Jenis Usaha BUMDes

Mengirimkan wakil desa mengikuti pelatihan memiliki keuntungan bakal mendapat banyak materi detail mengenai BUMDesa. Soalnya, pelatihan biasanya berdurasi lebih dari sehari dengan membahas berbagai kasus di lapangan sehingga peserta mendapat gambaran yang jauh lebih kuat mengenai apa itu BUMDesa dan apa yang harus dilakuka desanya agar bisa segera mengembangkan BUMDesa. Tetapi pelatihan biasanya hanya bisa diikuti oleh beberapa orang saja.

Pilihan kedua adalah belajar pada desa yang telah berhasil mendirikan BUMDesa dan berhasil mengembangkannya. Cara ini juga cukup efektif karena peserta akan melihat langsung secara fisik apa saja yang telah dicapai si desa berhasil itu. Hanya saja pilihan kedua ini mengharuskan desa mengeluarkan dana lebih besar apalagi jika kunjungan dilakukan secara berombongan.

Keuntungan kunjungan kerja adalah memberi gambaran yang nyata mengenai apa yang dilakukan desa lain lengkap dengan situasi yang ada di desa itu. Hanya saja biasanya desa yang telah berhasil dan layak ditiru masih berjumlah sangat sedikit dan berada di wilayah yang jauh dari desa si calon peserta. Misalnya beberapa desa yang ada di Yogyakarta dan Jawa Tengah, warga desa di luar pulau Jawa pasti harus berikir beberapa kali untuk mendatangi tempat dengan jarak yang sejauh ini dari desa mereka.

Baca Juga  Membangun BUMDes Kuat Perkasa

Pilihan lain adalah konsolidasi dengan beberapa desa lain dan menggelar pelatihan di salahstau desa yang ditunjuk sebagai tempat pelatihan alias mendatangkan pakar BUMDesa dari tempat lain. Cara ini lebih efisien karena biaya pelatihan bisa ditanggung bersama-sama antardesa sehingga tidak terlalu besar biaya yang harus dikeluarkan desa. Soalnya, yang berkepentingan pada pelatihan ini lebih pada lembaga BUMDesa dan bukan personnya. Sehingga butuh keputusan desa untuk turut menjadi peserta. Ini berbeda dengan pelatihan wirausaha atau seminar bisnis yang lebih mengarah pada kebutuhan personal.

Tetapi di atas semua itu yang paling penting adalah materi pelatihan itu sendiri. Benarkah materi pelatihan BUMDesa yang Anda ikuti benar-benar mampu menjawab persoalan yang dialami desa Anda. Atau jangan-jangan pelatihan itu bermateri normatif, tidak membahas desa secara kasuistis sehingga peserta tidak mendapatkan materi yang berguna untuk menyelesaikan masalah yang diihadapi. Bukan rahasia lagi, ada banyak model pelatihan yang isinya ternyata tidak cukup mendorong terciptanya kreativitas sosial desa sehingga tidak ada hal baru yang bisa dibawa pulang peserta untuk mengubah nasib desanya.

Baca Juga  Kemendes Pastikan BUMDes Punya Payung Hukum

Maka bagi desa-desa yang butuh pelatihan mengenai BUMDesa harus memastikan apa saja materi yang ditawarkan pada pelatihan itu, adakah tema yang mampu menjawab kebutuhan pengetahuan yang sedang dicarinya. Jangan sampai menghabiskan uang karena ikut pelatihan yang materinya tidak memberikan inspirasi perubahan.(aryadji/berdesa)

Foto: Berdesa.doc

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here