Ini Dia Konsep Desa Wisata Bisa Tanpa Harus Punya Potensi Alam Menakjubkan

1
2377

BERDESA.COM – Konsep desa wisata yang satu ini terbilang unik. Untuk sampai ke obyek wisatanya, butuh menjelajah hutan, tebing dan jalan setapak selama berjam-jam dengan jalan kaki. Tetapi tetap saja ratusan orang datang dari berbagai negara ke kampung di puncak pegunungan ini. Kenapa? Karena kampung ini memiliki tujuh Mbaru Niang, rumah adat berbentuk kerucut. Sepanjang masa, hanya ada tujuh Mbaru Niang di kampung ini, tak kurang tak lebih.

Keunikan budaya berupa jumlah rumah yang hanya tujuh itulah salahsatu daya tarik Wae Rebo yang terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satarlese, Kabupaten Manggarai Barat Flores, ini. Selain rumah yang dihuni enam hingga delapan keluarga itu, budaya kelompok masyarakat Wae Rebo adalah pesona yang sangat eksotis bagi wisatawan.

Konsep desa wisata bermodal budaya juga hidup dan berkembang di Tembi Rumah Budaya, Bantul. Meski terletak di dekat jalan raya dengan lingkungan desa yang sudah modern tetapi Tembi adalah rumah bagi berbagai kegiatan seni dan budaya, menjadi rumah bagi para seniman beraktualisasi dan tempat bercegkerama bagi para penyuka suasana unik ala desa. Tembi juga mengembang menjadi kampung seni yang juga mengembangkan homestay yang laris manis dibanjiri penginap. Restoran berarsitektur Jawa di Desa Timbulharjo ini juga banyak didatangi turis manca negara untuk menikmati makanannya yang khas lokal.

Baca Juga  Sedu Sedan Kewenangan Desa

Wae Rebo adalah contoh konsep desa wisata yang tak perlu banyak polesan. Hanya karena ‘nampang’ di sebuah kartu pos jepretan fotografer asal Jogja tahun 2008 lalu, wae rebo lalu dibanjiri wisatawa. Arsitektur rumah yang unik berfilosofi tinggi dan peri kehidupan warga lokal seperti magnit penyedot tamu saja. Hilir mudik orang mendaki demi melihat kehidupan warga di kampung ini.

Konsep desa wisata yang kuat dari Tembi Rumah Budaya juga tak mengandalkan keindahan alam buatan Tuhan. Tembi adalah keberhasilan para pegiat seni yang berhasil membangun ruang yang indah bagi para pegiatnya. Dua desa ini menyedot perhatian orang karena budayanya, karena sistem sosial yang ada di sana dan dijaga dengen sepenuh jiwa.

Maka konsep desa wisata sesungguhnya sama sekali tidak bergantung pada potensi alam suatu desa melainkan bagaimana warga menciptakan nilai lebih desa mereka yang berbeda dengan tempat lainnya dan menjaga keunikannya. Tetapi jangan lupa, desa wisata seperti ini juga harus mampu menyuguhkan sikap yang ramah dan tulus menyambut wisatawan yang datang mengunjungi desanya tanpa harus merubah sikap hidup mereka sehari-hari. Kenyamanan bagi para turis adalah hal mutlak yang harus dimiliki.

Baca Juga  2017, BUMDesa Bisa Fokus Pemberdayaan

Keunggulan desa yang mengunggulkan konsep desa wisata ketimbang alamnya yang memang menakjubkan dari ‘sononya’ adalah warganya selalu inovatif demi menjaga daya tarik wisata di daerahnya. Misalnya pola hidup super bersih Desa Panglipuran Bali yang juga menjaga tradisionalisme kehidupan desa. Kebiasaan hidup bersih membuat desa ini begitu indah baik bagi para penghuni maupun siapapun yang mengunjunginya. Apa yang lebih menarik dari keindahan?

Maka sesungguhnya jika desa Anda ingin menjadi desa wisata, Anda tak perlu resah karena desa Anda tak punya tebing curam nan misterius atau pemandangan super elok di sore hari, melainkan cukup menciptakan peri kehidupan desa yang menyenangkan seperti bersih dan rapi serta ramah tamah. Bakal menarik lagi dengan mengolah potensi makanan khas lokal untuk dijadikan pesona wisata kuliner misalnya. Di Desa Ambal Kebumen, berderet-deret kanan-kiri jalan warung sate ayam khas bertebaran yang kemudian mengundang banyak orang untuk menikmati ‘sate Ambal’.  Daya tarik itu bisa dimunculkan dari manapun juga.(aryadji/berdesa)

Foto: www.rindagusvita.web.id

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here