Kerangka Gagasan Potensi Ekonomi Desa

Foto: trendezia.com

Foto: trendezia.com

Oleh: Moh. Ikhsan
Bagaiamana menggagas pertumbuhan ekonomi desa? Setidaknya dikenal dua pendekatan teori pertumbuhan ekonomi. Pertama, berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi desa akan berjalan maksimal jika kondisi tenaga kerja berada dalam kondisi penuh. Posisi pemerintah dalam hal ini menjamin kemanan dan ketertiban serta  memberikan kepastian hukum bagi para pelaku ekonomi desa. Berarti posisi sumber daya desa, secara spesifik tenaga kerja mendapatkan tempat utama dalam proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di wilayahnya.

Kedua, berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi desa dipengaruhi oleh persediaan faktor-faktor produksi, akumulasi modal serta tingkat kemajuan teknologi di desa tersebut. Varian lain adalah pertumbuhan jalur cepat.  Secara ringkas teori ini mengatakan bahwa setiap desa perlu melihat sektor atau komoditas apa yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan dengan cepat.

Agar produk yang dihasilan oleh sebuah desa dengan berdasar atas potensi dan keunggulan desa tersebut maka produk yang dihasilkan desa tersebut harus mampu bersaing dengan produk dari desa lain. Salah satu hal yang bisa dilakukan adalah mensinergikan sektor-sektor pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi saling terkait dengan yang lainnya juga dengan mensinergikan seluruh kebijakan yang ada untuk pertumbuhan ekonomi di suatu masyarakat desa.

Varian selanjutnya adalah teori basis dan non basis. Menurut Arsyad (2002:16) bahwa faktor penentu pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan barang jasa dari luar daerah.
Menurut teori ini, bila fokusnya adalah desa, maka sektor basis adalah adalah sektor yang berorientasi ke luar desa. Menurut pandangan ini, semakin banyak barang yang diproduksi dan di jual ke desa/luar desa lain maka akan semakin maju pertumbuhan ekonomi di desa tersebut. Setiap perubahan produksi di desa tersebut akan mampu menggambarkan perkembangan pertumbuhan ekonomi di desa sekaligus memberikan efek ganda dalam perekonomian disuatu wilayah.

Sementara itu, sektor non basis adalah sektor yang menyediakan barang dan jasa untuk masyarakat di dalam batas wilayah perekonomian desa tersebut. Ruang lingkupnya bersifat lokal. Jadi sektor non basis ini mempunyai orientasi yang berbeda dengan sektor basis. Sektor non basis ini lebih ke dalam.
Emilia dalam Aditya (2013 : 14) mengatalan bahwa untuk menganalisis kriteria basis dan non basis di sebuah wilayah, digunakan analisis Location Quotion (LQ). Analisis ini digunakan untuk mengetahui berapa besar tingkat spesialisasi sektor basis dan non basis dengan cara membandingkan perananya dalam perekonomian sebuah wilayah.

Sementara itu, Hendayana (2003:3) mengatakan bahwa teori basis dan non basis ini berangkat dari pemahaman Hood (1998) merupakan alat pengembangan ekonomi yang sederhana. Dalam teknik LQ ini menerangkan bahwa pada intinya arah pertumbuhan suatu desa ditentukan oleh distribusi suatu desa ke luar wilayahnya.
Teknik LQ ini dapat membagi kegiatan ekonomi suatu desa menjadi dua golongan yaitu sebagai berikut :

  1. Kegiatan produksi yang melayani pasar di desa itu sendiri maupun di luar desa yang bersangkutan dengan produksi basis
  2. Kegiatan ekonomi atau produksi yang melayani pasar di desa tersebut yang dinamakan produksi non basis
    Selain analisi LQ, analisis yang juga digunakan dalam menganalisis potensi ekonomi desa adalah analisis shift share. Shift Share adalah analisi yang bertujuan untuk menentukan kinerja atau produktivitas kerja perekonomian desa dengan membandingkannya dengan desa lain.

Dengan demikian dapat ditemukan sebuah pergeseran hasil pembangunan ekonomi desa dis ebuah wilayah. Pertanyaan-pertanyaan apakah kemajuan pembangunan di satu desa lebih lambat atau lebih cepat dibandingkan dengan desa lainnya dalam satu wilayah, dapat terjawab oleh analisis ini.
Dalam analisis ini kinerja perekonomian  terbagi ke dalam tiga bidang yang mempunyai hubungan antara satu sama lain yaitu sebagai berikut :

1. Pertumbuhan ekonomi di ukur dengan cara menganalisis perubahan agregat secara sektoral dibandingkan dengan perubahan pada sektor yang sama yang dijadikan acuan
2. Pergeseran proporsional mengukur perubahan relatif pertumbuhan atau penurunan atau pada desa yang dibandingkan dengan perekonomian yang lebih besar untuk dijadikan acuan. Dengan hal itu, dapat diketahui dimana konsentrasi pertumbuhan di desa terjadi
3. Pergeseran yaang berguna untuk menentukan seberapa besar daya saing produksi desa dengan perekonomian yang dijadikan sebagai acuan.

Selanjutnya adalah Tipologi Klausen. Analisis ini dikembangkan oleh Leo Klaussen (1965) yang mengatakan bahwa untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing wilayah atau desa. Secara mendasar tipologi desa membagi desa berdasarkan dua indikator utama yaitu pertumbuhan ekonomi desa dan pendapatan perkapita.

Dalam tipologi ini perkembangan desa di bagi kedalam beberapa bagian yaitu sebagai berikut :

– Desa cepat maju dan cepat tumbuh. Ciri menonjol desa ini adalah laju pertumbuhan PDRB dan pendapatan perkapita lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan dan pendapatan.
– Desa maju tapi tertekan. Yaitu desa yang relative maju, tapi dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan menurun akibat tertekannya kegiatan utama di desa yang bersangkutan.
– Desa berkembang cepat. Adalah desa yang dapat berkembang cepat dengan potensi pengembangan yang dimiliki sangat besar tapi belum diolah sepenuhnya dengan baik.
– Daerah relatif tertinggal. Adalah daerah yang masih mempunyai tingkat pertumbuhan dan pendapatan perkapita lebih rendah dari pada rata-rata daerah diatasnya.

Perencanaan pembangunan ekonomi desa yang komprehensif idealnya tidak hanya mengandalkan potensi unggulan ekonomi desa tersebut, namun juga harus menganalisis keunggulan kompetitif desa sendiri dibandingkan dengan desa lain dalam satu wilayah sehingga mampu membaca arena pengembangan ekonomi  dengan lebih luas. Dan terakhir untuk memberikan masukan yang kuat dalam perencanaan pembangunan ekonomi desa, maka perlu juga melihat tipologi kondisis perekonomian di sebuah daerah.

Berdasarkan paparan tersebut, maka kerangka berpikir yang dipakai dalam menggagas pertumbuhan ekonomi desa adalah sebagai berikut :

Kerangka Gagasan Potensi Ekonomi Desa

Kerangka Gagasan Potensi Ekonomi Desa

 

*) Kertas Gagasan Ekonomi Desa, Serial Diskusi Desa dan Reforma Agraria, Sekretariat SAPA, TKPKD, Provinsi Jawa Barat, BAPPEDA Jawa Barat, 13 Nopember 2014

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*