Kenapa Dana Desa Belum Maksimal Mengentaskan Kemiskinan, Ini Sebagian Jawabannya

0
238

Berdesa.com – Tahukah Anda, yang menyebabkan gagalnya penetapan dana Rp 120 triliun untuk dana desa tahun 2018 adalah karena program dana desa dianggap belum mampu mengentaskan kemiskinan sebagaimana diharapkan. Program yang telah tiga tahun berjalan dan memberikan dukungan dana dalam jumlah besar dengan segenap kewenangan yang diberikan kepada desa ternyata belum mendatangkan manfaat seperti diharapkan. Ada apa dengan desa? Bagaimana dengan BUMDes?

Riset data yang dilakukan Tim Berdesa mengungkapkan, peran kepala desa sangat menentukan cepat dan lambatnya sebuah desa menciptakan peningkatan kesejahteraan melalui BUMDes. Seorang kepala desa butuh usaha keras untuk bisa menguasai wacana BUMDes dan merumuskan pemahamannya menjadi sebuah lembaga yang menghasilkan keuntungan sosial maupun profit.

Situasi ni tambah parah karena BUMDes didorong ke arah yang tidak realistis. Selama ini BUMDes yang dianggap hebat adalah BUMDes yang membukukan keuntungan profit yang besar. Akibatnya, para kepala desa beranggapan, BUMDes yang hebat ya BUMDes yang menghasilkan banyak uang semata. Keyakinan ini semakin kuat karena selama ini yang digambarkan dalam pemberitaan media sebagai BUMDes hebat adalah BUMDes yang menghasilkan rupiah milyaran.

Celakanya, yang dilihat orang adalah hanya puncak es-nya saja. Mereka tidak melihat bagaimana kepala desa dan para pemuda Nglanggran berjuang menuju ke titik ini. Perjuangan Nglanggran membangun gunung purba menjadi obyek wisata sudah dimulai sejak hampir sepuluh tahun yang lalu dengan penuh pengorbanan para pemuda dan warga setempat. Jadi kalau hari ini Nglanggeran menjadi desa wisata terbaik di Asean, itu adalah hasil kerja selama bertahun-tahun. Bagaimana dengan desa yang tidak memiliki anugerah alam yang hebat seperti Ponggok dan Nglanggeran, apakah juga bisa mencapai langkah yang hebat?

Baca Juga  Sedang Dikaji, Mensinergikan BUMDes dengan Bank Wakaf Mikro

Desa Pandowoharjo adalah contoh yang fenomenal. Desa ini mendirikan BUMDes Amarta dan memilih pengelolaan sampah sebagai unit usaha. Awalnya pilihan ini terdengar sangat biasa karena ada banyak BUMDes memilih aktivitas serupa. Tapi di bawah kepemimpinan Agus Setyanta (Direktur BUMDes) dalam tiga bulan saja pengolahan sampah Amarta mampu menghasilkan uang menghidupi aktivitasnya sendiri. Tak sampai tahun Amart abahkan sudah mendapatkan kepercayaan bank, mendirikan toko dan memiliki karyawan tetap dengan gaji UMR.  Amarta terus melaju meninggalkan desa lain, kini mereka mengembangkan perkebunan organik dan memproduksi pupuk organik dengan volume produksi lebih dari dua ton per bulan.

“ Kami memilih membangun kepercayaan warga dulu terhadap BUMDes. Bekerja dulu, buktikan dulu, profit muncul dengan sendirinya. Secara rupiah kami memang belum menghasilkan angka yang besar. Tapi manfaat sosial yang kami ciptakan jauh lebih besar dan lebih penting sebagai investasi sosial,” kata Agus Setyanta. Kini BUMDes Amarta adalah salahsatu BUMDes rujukan bagi desa-desa se-Indonesia untuk belajar mengenai bagaimana mengelola BUMDes dengan sangat efektif.

Baca Juga  Program ‘Bekerja’, Tiap Rumah Dapat Ayam atau Kambing

Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta adalah juga salahsatu desa yang dulu tertinggal dan kini berjaya. Bahrun Wardoyo, hanya dalam dua tahun Bahrun Wardoyo merubah desa yang dulu ‘tak dikenal’ itu menjadi desa rujukan ribuan desa lain untuk belajar berbagai hal. Salahsatunya adalah mendirikan Desamart, minimarket modern milik BUMDes.

Desa Pandowoharjo dan Dlingo adalah contoh desa yang berhasil menciptakan lompatan dengan cara yang cerdas. Dua desa ini tidak terpengaruh anggapan mengenai angka sebagai patokan keberhasilan BUMDes. Mereka dengan cerdas memilih jalan untuk membangun kepercayaan warga terlebih dahulu terhadap BUMDes. Caranya dengan membuktikan pengurus BUMDes berhasil menciptakan lembaga usaha sekaligus memberikan manfaat sosial yang besar bagi masyarakat. Setelah itu terbukti, kini mereka mulai menuai hasilnya.

Jadi, anggapan bahwa BUMDes yang hebat adalah BUMDes yang melulu karena bisa menciptakan rupiah yang banyak, logika itu harus diluruskan. Karena tidak semua desa memiliki anugerah alam yang indah untuk menjadi obyek wisata dan sangat tidak realistis pula lembaga bisnis bakal menciptakan peolehan laba raksasa dalam waktu sangat cepat. Tetapi hambatan terbesarnya karena tidak mudah bagi para kepala desa menguasai persoalan BUMDes, potensi desa dan sebagainya lalu merumuskan lembaga usaha yang langsung menghasilkan uang dalam waktu sangat cepat.

Baca Juga  Bentuk & Strategi Majukan BUMDesa

Akibatnya kini, desa bakal menciptakan lompatan kesejahteraan melalui dana desa terutama BUMDes-nya belum maksimal seperti yang diharapkan. Bayangan BUMDes yang dianggap hebat adalah BUMDes yang menghasilkan uang tak hanya membuat pusing para kepala desa tetapi juga membuat mereka semakin ciut nyali. Apakah mereka bisa mencapai titik kehebatan jika ukurannya sepert itu? Maka dalam konteks ini Desa Pandowoharjo dan Dlingo terbukti telah menciptakan lompatan besar dalam skala yang lebih luas. Soalnya dua desa ini, melalui kemampuan kepala desa dan BUMDes-nya mampu menciptakan daya dukung yang luar biasa bagi seluruh warga desa meningkatkan kesejahteraan diri mereka. Bagaimana dengan desa Anda? (aryadjihs/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here