Kenapa Banyak Desa Tertarik Mengembangkan Desa Wisata, Ini Jawabannya

Kenapa Banyak Desa Tertarik Mengembangkan Desa Wisata, Ini Jawabannya

BERDESA.COM – Tak bisa dibendung, banyak desa saat ini seakan berlomba menjadi desa wisata. Utamanya desa yang memiliki potensi alam yang elok. Akibatnya, persaingan merebut hati para wisatawan menjadi topik penting sekarang saking banyaknya tempat wisata demi tamu pada datang. Kenapa desa wisata menjadi primadona?

Seperti Kecamatan Dlingo, Bantul, Yogyakarta misalnya. Dalam beberapa tahun ini, kecamatan di atas pegunungan dibelahan paling timur Bantul itu benar-benar berubah wajah. Jalan besar membelah tujuh desa di kecamatan dlingo yang dulu sepi, kini bak kota saja, lau lalang lalu lintasnya tak pernah surut. Mereka adalah para penikmat wisata pemandangan alam nan elok desa-desa di sini.

Ada beragam obyek wisata di Dlingo dan hampir seluruhnya menyuguhkan pemandangan alam. Mulai dari hutan pinus yang sejuk dengan suara desir daun pinus yang misterius, sembari memandang hamparan kota Jogja dari atas hingga air terjun di berbagai jalur sungai yang membelah perbukitan di desa-desa ini. Semuanya menjelma menjadi tempat yang melambaikan tangannya kepada siapa saja untuk mengunjungi.

Puncak Becici di Desa Muntuk misalnya, kesejukan hutan pinus pemandangan hutan serta Jogja dari atas membuat tempat ini dikunjungi ratusan orang setiap hari. Sepanjang Muntuk hingga Mangunan bertebaran pemandangan elok hutan pinus seperti ini. Semuanya sangat indah ketika dijepret di telepon genggam.

Desa Dlingo memiliki air terjun Lepo yang memesona. Berupa undak-undakan sungai membentuk deretan air terjun kecil membuat puluhan orang selalu ingin kembali ke pemandian alami ini. Soalnya, di bawah air terjun itu, bebatuan membentuk menjadi kolam renang alami yang indah sekali.

Desa wisata memang penuh pesona. Konsep desa wisata yang berpusat pada keindahan membuat sebuah desa menjadi bersih, cantik dan nyaman. Daya tarik proyek desa wisata adalah, bahkan jika pun tidak didatangi banyak orang dan tak seramai desa wisata lain, tetap saja desa itu bakal menjadi cantik dan menyenangkan bagi penghuninya. Bagaimana tidak, desa menjadi bersih sehingga tercipta lingkungan yang sehat, menjadi terkenal dan gambarnya beredar ke seantero dunia. Apalagi jika ramai, banyak peluang pendapatan baru mulai dari usaha tarnsportasi, penginapan, jual makanan, jasa parkir hingga pemandu wisata.

Menjual desa wisata juga tidak berbeda dengan pola usaha produksi misalnya. Soalnya, seluruh aspek pada dunia wisata selalu beraroma keindahan, seni dan hal-hal yang menyenangkan karena pada dasarya pelayanan wisata adalah menciptakan suasana menyenangkan bagi siapapun. Sementara usaha produksi identik dengan berbagai urusan kerja fisik yang tak hanya melelahkan tetapi juga tidak memberikan banyak ruang bersuka ria.

Semangat membangun desa wisata juga bisa merubah sosio karakter suatu kelompok masyarakat. Semua orang akan berusaha menjadi ramah dan menyenangkan bagi orang lain dan ini akan menciptakan suasana baru bahkan bagi para penghuni desa itu sendiri. Konflik sosial bakal luntur dengan sendirinya karena mereka harus selalu siap tersenyum dan memberikan pelayanan yang tulus pada setiap tamu yang mendatangi desa mereka.

Dari segi pendapatan desa wisata juga sangat menarik karena hampir tidak berbatas. Sebuah desa yang terpencil sekalipun bisa saja mendapatkan berkah pendapatan ketika diserbu wisatawan dengan beragam layanan yang diberikan. Homestay misalnya, hanya dalam semalam saja, bermodal ruangan bersih, sebuah kamar bisa menghasilkan Rp. 150 ribu misalnya. Padahal hanya perlu membersihkan, mencuci sprei dan menyiapkan makanan khas desa saja. Nah, beragam hal inilah yang membuat konsep desa wisata menjadi primadona setiap desa. Bagaimana dengan desa-mu?(aryadji/berdesa)

Foto: www.bisniswisata.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*