Keindahan Alam Bak Bait Puisi Tebing Geureutee

pantai Tebing Geureutee Aceh - berdesa

Namanya Geureutee dan siapapun bakal sepakat, keindahan pemandangan dari lereng gunung ini seindah bait-bait puisi cinta. Memandang langsung bentangan Samudera Hindia dengan beberapa pulau tak berpenghuni dengan pasir putih melingkarinya. Semua ini tersuguh di hadapan mata. Ingin tahu gambaran lengkapnya, begini rekaman kunjungan Berdesa.com disana:

Berderet warung menyuguhkan kopi Aceh yang dahsyat itu dan berbagai piihan menu makan yang bisa Anda pesan di sepanjang jalan di lereng-lereng tebing ini. Silakan menikmatinya sembari menatap biru laut terhampar dan semilir angin menyibak rambut. Di sisi yang lain Anda akan melihat ombak beralun-alun di pantai tepat di bawah tebing tempat Anda memandang. Bayangkan, menyeruput kopi Aceh yang legendaris sembari menatap keindahan pulau-pulau kecil di tengah bentangan samudera. Tunggu hingga matahari condong dan mulai tenggelam di garis cakrawala, semuanya tepat di hadapan mata.

Bukan itu saja, hawa yang sejuk adalah pesona lainnya, tahu sebabnya? Karena pemandangan ini Anda nikmati pada tebing dengan hutan hanya beberapa meter di belakang tempat duduk Anda. Jangan kaget jika beberapa ekor kera tahu-tahu duduk di dekat Anda. Jangan kawatir, tak ada catatan kera di sini melakukan serangan pada manusia

Tempat nan elok ini berjarak sekitar 1,5 jam dari kota Banda Aceh. Masuk ke wilayah Lamno. Kota Lamno adalah salahsatu pemandangan yang bisa Anda lihat dari tebing ini. Lamno sendiri memiliki keunikan yang tak banyak dipunyai wilayah lain. Di Lamno ini ada banyak gadis cantik bermata biru seperti halnya orang Eropa. Bagaimana bisa?

wisata Tebing Geureutee Aceh - berdesa

Lamno adalah sebuah kota pesisir yang telah ramai dikunjungi para pelaut sejak berabad-abad silam. Dari kelumit sejarah yang sempat direkam penulis, para prajurit Purtugis itulah yang mewariskan mata biru yang elok itu. Tak hanya mata biru saja tentu, ‘tinggalan’ Purtugis juga menapak pada paras para gadis yang rata-rata memiliki kecantikan campuran Aceh-Eropa.

Tapi jangan puas dulu, ini hanya salahsatu keindahan pantai tanah Serambi. Sepanjang jalur ini hingga Calang bahkan Meulaboh, pandangan Anda bakal disuguhi pemandangan pantai yang tiada tara. Hebatnya, hampir sepanjang jalur berdurasi tempuh sekitar tiga jam ini, jalan raya berkualitas tinggi dan lebar mengular di sepanjang pinggir pantai. Anda hanya tinggal menghentikan mobil dan membuka kaca jendela saja untuk mendapatkan gambar yang indah melalui lensa kamera Anda. Jadi sudah jelas, jangan sampai baterai HP Anda kehabisa daya ketika lewat sepanjang jalur ini. Anda bakal sangat rugi jika tak sempat mengabadikannya.

Jangan kaget pula jika pada banyak pinggiran pantai bakal Anda lihat tonggak-tonggak kayu yang telah menghitam. Itu adalah bekas rumah-rumah warga yang hancur-lebur diterjang tsunami, 13 tahun lalu. Ya, dibalik keindahan pantai-pantai ini sebuah tragedi besar pernah menghantam sepanjang segala-gala, tsunami.

Tonggak-tonggak itu kini berada di pinggir pantai karena sejak tsunami menerjang, bibir pantai masuk ke daratan beberapa ratus meter, meninggalkan sejuta cerita memolukan warga yang selamat dari terjangannya. Jalan yang bakal Anda lewati adalah jalan baru yang dibangun paska tsunami dengan biaya luar biasa karena membelah gunung, meratakan bebatuan terjal di sepanjang jalur. Jalan raya sebelumnya, hilang ditelan bibir samudera. Bencana itu pula yang membuat rumah-rumah warga Aceh di pinggir pantai ini menjadi seragam karena berdiri sebagai program bantuan paska tsunami.

Anda juga bisa merekam berbagai cerita ketika lidah air raksasa menyapu kampung-kampung warga kala itu. Anda tinggal berhenti saja, menyapa lalu mengajak ngobrol orang-orang yang tinggal di sana. Mereka adalah orang-orang yang telah kehilangan segalanya ketika bencana datang kala itu dan kini tetap tinggal di sana sembari mengingat kisah menyedihkan keluarga mereka.

Tsunami hanyalah satu dari derita warga di wilayah ini hingga bencana terjadi. Bertahun-tahun sebelumnya, jalur ini disebut-sebut sebagai jalur rawan bagi siapapun yang melewatinya. Konflik Aceh membuat tempat ini disebut sebagai tempat yang tak aman untuk dilewati.

Tapi Aceh kini jauh berbeda. Suasana Islami yang sejuk membuat Anda bahkan tidak perlu kawatir. Warga Aceh sangat ramah dan langsung akrab dengan siapa saja. Anda juga tak perlu kawatir dengan ancaman kriminal karena di tanah ujung barat negeri ini, niat jahat dan kriminal sudah tidak punya tempat lagi. (aryadjihs/berdesa)

Foto:aryadjihs/berdesa

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*