Kearifan Lokal Sebagai Esensi Desa Wisata

0
1681
Kearifan Lokal Sebagai Esensi Desa Wisata
Kearifan Lokal Sebagai Esensi Desa Wisata foto: greenpeace

BERDESA.COM – Sebagai salah satu negara dengan kekayaan budaya terbesar dunia, kita patut berbangga sebagai putra bangsa Indonesia. Budaya yang lahir dari olah rasa dan karsa leluhur yang berwujud ke dalam aneka bentuk baik benda secara fisik, tradisi, kesenian, cara hidup berkeluarga, bertetangga dan bermasyarakat, cara mengelola sumber daya alam, petuah dan pitutur. Sebagai contoh, rumah adat Jawa atau Joglo yang berkonsep arsitektur sederhana namun bermakna mendalam.

Rumah adat atau rumah tradisional berbagai suku di negeri ini mengajarkan cara membuat tempat tinggal atau hunian atau bangunan yang berwawasan lingkungan dan hemat energi. Dengan ventilasi yang cukup, membimbing kita agar berhemat sumber daya alam dan energi dengan mengurangi penggunaan listrik di siang hari dan AC. Bukan hanya itu banyak rumah tradisional kita yang ternyata memiliki konstruksi lebih tahan gempa daripada bangunan modern yang serba mewah.

Kearifan lokal yang berwujud kesenian atau tradisi atau kombinasi keduanya banyak tersebar dari Sabang sampai Merauke mengajarkan kita bagaimana berperilaku yang baik dan bijak dalam kehidupan sehari-hari dengan sesama manusia, mahluk lain maupun alam. Sebut saja Upacara Kasada yang sangat tersohor dari masyarakat Tengger di Gunung Bromo, mengajarkan agar selalu bersyukur atas karunia yang dilimpahkan Tuhan sekaligus menjaga alam. Ada juga tradisi dua tahunan Petik Laut di Kabupaten Malang, tepatnya di Pantai Sendang Biru yang juga sangat terkenal mengingatkan kita agar selalu bersyukur atas kekayaan laut yang telah menghidupi masyarakat, mengajarkan semangat gotong royong, berbagi sekaligus menjaga keseimbangan alam khususnya menjaga ekosistem laut.

Baca Juga  Embung Desa juga Ciamik Jadi Obyek Wisata

Sedekah Laut di Cirebon yang juga mengajarkan semangat bergotong royong yang diajarkan para leluhur, mengajak untuk bersedekah kepada yang lebih membutuhkan sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas berkah yang sudah dilimpahkan. Ritual Seren Taun dari Kuningan yang mengajak kita agar memelihara semangat gotong royong dan merawat alam sekitar yang sudah menyediakan kehidupan bagi masyarakat. Kesenian Sisingaan dari Subang yang juga sebagai manifestasi rasa syukur dan harapan masyarakat kepada Tuhan atas karunia dan berkah yang sudah dicurahkan ke bumi.

Upacara Tea Bel di Kepulauan Kei di Maluku yang mengajak kita agar selalu menjaga persaudaraan dan perdamaian antar sesama dan masih banyak lainnya. Leluhur bangsa ini sudah mewariskan nilai-nilai budaya yang sangat luhur bernama kearifan lokal yang bisa menjadi modal penting bagi pembangunan negeri berbasis pembangunan karakter bangsa dan ini bisa menjadi “komoditas unggul” Indonesia di mata dunia, yaitu bangsa yang berkarakter, ber-akhlakul karimah, khususnya di sektor pariwisata. Kearifan lokal diharapkan bisa menjadi magnet raksasa bagi negeri ini bahwa kita adalah negara yang pantas dikunjungi, pantas untuk investasi, pantas untuk diajak bekerja sama. (Catur Nugroho)

foto: greenpeace

Tips : Merintis Pendirian Desa Wisata

Baca Juga  Air Terjun Lepo, Pesona Desa Dlingo yang Kini Laris Kunjungan

Baca juga : Potensi BUMDesa Kelola Wisata Alam
Pendamping Desa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here