Juru Tikam Wisata Desa Lamalera

0
664

Lamafa atau sang juru tikam adalah warga desa yang menjadi tokoh terhormat dalam kehidupan masyarakat Lamalera. Kemampuan menjadi seorang lamafa adalah kemampuan yang diwariskan secara turun temurun dalam satu keluarga. Nelayan yang menjadi juru tikam dalam penangkapan ikan paus pasti dilahirkan dari ayah yang juga lamafa. Seorang lamafa akan melompat dan menikam ikan paus berukuran puluhan meter dengan tombak bambu sepanjang kurang lebih 2 meter. Lamafa senior juga bisa melompat dari haluan perahu mereka sampai sekitar 1 sampai 2 meter sebelum tubuh dan tombaknya menghunjam seekor ikan paus di lautan lepas. Bagi mereka yang menyukai wisata desa, bertemu dan mengobrol dengan seorang lamafa adalah suatu kehormatan tersendiri.

Namun tak banyak wisatawan lokal maupun asing yang berkunjung untuk wisata desa di Lamalera. Mungkin karena letaknya yang sangat terpencil atau mungkin juga karena biaya yang dibutuhkan cukup besar dan akses transportasi pun masih terbatas. Selain itu juga tak ada penginapan. Pun tak ada restoran. Kita harus tinggal di rumah penduduk dan makan sederhana masakan rumah mereka. Wisatawan yang mencari ketenangan dan ingin merasakan back to nature cocok datang ke Lamalera. Juga para petualang alam liar.

Baca Juga  Contoh Usaha Potensial Di Desa

Untuk tiba di Lamalera, para pelancong harus melewati 3 jenis perjalanan sekaligus. Jalan via udara, jalan darat, dan melaut. Jika kita berangkat dari Jakarta, pertama kita harus terbang ke Denpasar terlebih dahulu. Dari Denpasar perjalanan dilanjutkan dengan pesawat kecil menuju Maumere dengan waktu penerbangan kurang lebih dua jam. Waktu untuk menempuh perjalanan jalur udara kurang lebih empat jam dari Jakarta sampai Maumere. Route lain adalah Jakarta-Kupang-Maumere dengan waktu tempuh kurang lebih sama.

Setiba di Maumere, setelah beristirhat sejenak dan makan siang, Anda harus lanjut menempuh perjalanan darat menuju Larantuka selama sekitar 3-4 jam dengan mobil sewaan. Tak ada kendaraan umum. Harus mobil sewa. Jalannya mendaki dan berkelok-kelok dengan sebagian besar daerah masih hutan dan bukit-bukit. Dari Larantuka, perjalanan kembali dilanjutkan melalui rute laut. Ada kapal feri tapi tak selalu ada pemberangkatan dari Larantuka sehingga pilihannya adalah menyewa perahu nelayan bermesin Johnson yang disebut pledang. Itulah perjuangan yang harus dilalui untuk sampai di Lamalera.

Baca Juga  Merumuskan Strategi Pengembangan Desa Wisata

Tradisi Menangkap Paus

Menangkap paus bagi warga wisata desa Lamalera adalah tradisi, bukan sebuah perburuan yang bisa mengancam keberadaan ikan paus. Mereka boleh dikatakan tidak berburu karena hanya menunggu datangnya paus ke pantai mereka. Daging dan bagian-bagian lain dari seekor paus bisa menghidupi seluruh penduduk selama beberapa bulan. Di pinggir pantai, terpajang sebuah kerangka utuh ikan paus berukuran besar, sekitar lima meter panjangnya. Kerangka itu menjadi hiasan di depan rumah seorang warga desa wisata Lamalera sekaligus sebuah bukti kehebatan lamafa yang menikam paus itu. Kerangka itu disusun ulang dengan baik karena para nelayan Lamalera sangat mengenal struktur tulang seeokor ikan Paus.

Tidak ada unsur keserakahan dalam perburuan ikan paus yang dilakukan para lamafa di Lamalera. Tak ada tujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memburu paus yang memasuki pantai Lamalera. Itu semata-mata sebuah tradisi turun-temuran yang dijaga sebagai bagian dari ritual kehidupan sekaligus sumber makanan bagi para nelayan dan warga desa Lamalera yang memang hidup di wilayah terpencil. Tradisi itu juga mengajarkan nilai-nilai kehidupan bagi para nelayan Lamalera, bahwa mereka bukanlah yang berkuasa atas laut dan segala isinya. Tradisi ini juga mengajarkan bahwa mereka harus berbagi hasil laut untuk kehidupan seluruh warga. Bahwa mereka punya peran masing-masing dalam siklus kehidupan. Baik antara sesama manusia maupun antara manusia dengan alam semesta.

Baca Juga  Membangun Jaringan Kerjasama BUMDesa, Kenapa Tidak?

Tips : Merintis Pendirian Desa Wisata

Baca juga : Potensi BUMDesa Kelola Wisata Alam
Pendamping Desa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here