Inspiratif, Langgongsari Menyulap Tanah Wingit Menjadi Lahan Duit

0
208

Berdesa.com – Sesungguhnya, ada banyak cara membangun kesejahteraan desa. Bahkan kadang kesejahteraan bersama berangkat dari ide sederhana tetapi memiliki dampak yang luar biasa. Seperti yang dilakukan warga Desa Langgongsari, Banyumas, Jawa Tengah. Desa ini memanfaatkan lahan desa seluas 4 hektar yang selama ini disebut ‘tanah wingit’ dan terbengkelai menjadi lahan penghasil duit. Kok bisa, simak kisahnya berikut ini:

Bertahun-tahun hamparan lahan yang dalam bahasa lokal disebut ‘bulak’ itu dianggap wingit (baca: angker) dan dipenuhi kisah horor. Begitu ngerinya kisah seram di sana sehingga anak-anak dilarang keras bermain-main lahan dipenuhi rumput liar di sana. Hingga seorang bernama Rasim beraksi. Siapakah Rasim? Dialah Kepala Desa Lenggongsari yang berjarak tujuh kilometer dari Kota Purwokerto itu.

Lain warga lain Rasim, di mata Rasim, hamparan tanah itu sama sekali bukan tempat wingit melainkan justru peluang menghasilkan uang. Caranya? Menyulap lahan nganggur itu menjadi pusat usaha warga desa. Menggunakan dana desa, Rasim dan mengajak seluruh warga menjadikan tempat ini menjadi tempat wisata bernama Agrowisata Bulak Barokah. Lahan yang sepi itu berubah menjadi tempat hidup aneka jenis ternak yang kini menjadi daya tarik bagi anak-anak TK dan PAUD yang sedang belajar mengenal hewan-hewan. Di sisi lain dibangun 26 kios berukuran 3×4 meter berbagan anyaman bambu.

Baca Juga  Banyaknya Keuntungan Minimarket Sebagai Unit Usaha BUMDes

Deretan kios unik itu kini menjadi pusat kuliner desa ini. Setiap warga yang ingin berjualan harus membayar Rp. 600 ribu per tahun untuk mendapatkannya. Di sini siapapun bakal terkesiap dengan aneka makanan yang ada karena seluruh makanan aslli Banyumasan tersedia, terutama Teme Mendoan yang legendaris itu. Warim dan Durori adaah beberapa warga yang menyewa tempat ini. Masing-masing mereka berjualan aneka jenis jajanan ringan di sana. Hasilnya?” Omzet saya sampai Rp. 200 ribu per hari” ungkap Durori yang sebelumnya bekerja serabutan itu. Warim juga demikian, penderes kelapa itu kini punya pendapatan tambahan nan lumayan berkat warungnya di tempat wisata baru ini. Hanya kandang ternak dan warung? Oh tidak, masih ada lagi sederet pesona di sana.

Di bagian lain di lahan ini berlompatan 30 ekor kelinci dengan riangnya, menghibur rombongan anak-anak yang hilir mudik berisata. Kelinci-kelinci itu menemni 25 kambing berbagai jenis, 3 ekor kerbau, 16 sapi, belasan ribu ikan lele, nila, patiin dan melem yang hidup damai di kolam-kolam di sana. Belum termasuk 650 batang poho seperti durian dan aneka buah. Juga ada 400 pohon petai, tebu, salak dan sayur-mayur. Selesai? Beum sama sekali.

Baca Juga  Eloknya Kalibiru, Si Jawara Desa Wisata Jogja

D tempat ini ada pula 24 petak tempat pengolahan gula kelapa khas desa setempat. Gula kelapa adalah salahsau potensi lokal yang selama ini menjadi mata pencaharian warga desa ini. Sebanyak 450 keluarga hidup dari aktivitas pembuatan gula kelapa, menyebar di seantero desa. Kini, mereka memiliki saat pusat penjualan  di tempat ini, untuk memudahkan pembeli dari luar mendapatkan gula kelapa. Seluruh area ini dikelola Badan Usaha Miik Desa (BUMDes) Kabul Ciptakku  Desa Lenggongsari.

Memang belum ramai benar tempat ini karena baru dibuka November 2017 lalu dan terus melakukan pemolesan. Tetapi selama Januari lalu, dengn tiket Rp. 12.500,-  angka pengunjung sudah mencapai 388 orang dalam sebulan dan terus meningkat. Bukan hanya pengunjung yang datang, baru-baru ini Lenggongsari mendapatkan penghargaan dari Otoritas Jasa Keuangan berkat ide hebat ini. Rasim, sang kepala desa da inisiator lahirnya Agrowisata ini menyatakan, pihaknya optimis bulan-bulan mendatang tempat ini bakal segera didatangi banyak orang begitu namanya mulai dikenal.(aryadji/berdesa/dari berbagai sumber)

Baca Juga  Sumber Dana Desa untuk BUMDesa Jangan Terhambur karena Latah Saja

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here