Inspiratif, Jualan Belalang Goreng Hingga Bisa Umroh

0
805

Berdesa.com – Jika Anda berwisata ke Gunungkidul, Yogyakarta yang kondang dengan deretan pantainya yang luar biasa itu, Anda juga akan menemukan ini. Di ruas jalan Playen menuju Yogyakarta, orang-orang berdiri di pinggir jalan menawarkan rentengan belalang mentah. Buat apa? Buat digoreng dan dimakan. Sebagian orang mungkin ngeri. Tapi jangan salah, belalang goreng adalah salahsatu jenis menu kuliner ekstrim yang banyak penggemarnya.

Begitu khasnya Gunungkidul dengan belalang goreng hingga pasangan Sukir-Suliani, warga Dusun Karangsem, Desa Mulo, Playen, mampu mendapatkan income yang tak hanya membuat ekonomi keluarganya membaik tetapi bahkan mampu menerbangkannya untuk pergi umrah. Kok bisa, bagaimana caranya?

Seperti puluhan warga di dusunnya, Sukir adalah salahsatu yang menawarkan belalang di pinggir jalan dengan modal sebuah meja, kursi dan tulisan sederhana. Belalangnya dia dapat dari para penangkap belalang di desanya. Selain jualan belalang, Sukir adalah buruh serabutan sehingga yang hasilnya tidak tetap sehingga mengalami kesulitan ekonomi. Hingga akhirnya Sukir punya ide sederhana, jika hanya jualan belalang mentah di pinggir jalan saja maka hasilnya tidak akan pernah meningat. Maka Sukir mengusung kompor dan alat penggorengan di pinggir jalan tempatnya mangkal.

Baca Juga  Borneo Be, Keindahan Aksesori dan Budaya

Satu dua hari masih sepi, tetapi beberapa hari kemudian orang-orang mulai tertarik datang ke lapaknya untuk beli belalang goreng dadakan yang dibukanya. Namanya makin dikenal karena inovasinya membuka warung belalang goreng dadakan. Setiap hari para pembelinya bertambah. Bukan hanya orang yang pulang berwisata dan ingin menjadikan belalang goreng sebagai oleh oleh tetapi juga para pemilik warung makan yang menjadikan belalang goreng sebagai salahsatu daftar menu di warung makan mereka.

Begitu besarnya minat pembeli sehingga Sukir mengalami kesulitan mendapatkan belalang. Hingga akhirnya bukan hanya belalang Gunungkidul saja yang dia jual melainkan juga belalang ‘impor’ dari daerah lain seperti Kebumen, Purworejo dan berbagai daerah. Soalnya, dalam sehari kadang Sukir menghabiskan 6 kilogram belalang mentah. Percayalah, enam kilogram belalang sungguh bukan jumlah yang sedikit untuk dikumpulkan dengan cara menangkap manual. Siapa saja pembelinya?

Tapi para pembeli belalang goreng Sukir-Suliani bukan hanya para pembeli yang datang langsung ke lapaknya yang berada di pinggir jalan di bawah rindang pohon jati itu. Angka penjualan yang tinggi itu tercapai karena Rahmat, anak semata wayang Sukir, menggunkan Facebook alias penjualan online dan media sosial lainnya sehingga permintaan datang dari berbagai daerah bahkan datang dari Bali, Jakarta dan daerah lainnya. Rahmat yang hanya lulusan SMP itu dengan pintar mendapatkan banyak pesanan.

Baca Juga  Wisata Desa Dan Seribu Kunang-Kunang

Dalam sehari, Sukir bisa menjuall 20 -40 toples kecil dengan harga Rp. 20 -25 ribu per toples. Sebagian besar belalang goreng itu bahkan di kirim ke berbagai kota. Kini tak hanya toples yang mengemasnya tetapi sudah menggunakan kemasan plastic yang cantik sehingga membuat belalang goreng Sukir makin memincut hati. Berkat kegigihan dan kreativitas sekeluarga ini, belalang goreng ‘made in’ Sukir-Suliani bisa mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi dibanding jika dijual dalam bentuk mentah. Hasilnya, Sukir dan istrinya bisa berangkat Umrah dan kehidupan keluarga serta anaknya menjadi jauh lebih baik. Siapa sangka belalang yang selama ini disebut hama itu juga bisa menghasilkan rupiah melimpah.(ary/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here