Ideologi Konsumsi Manusia Mall

Ideologi Konsumsi Manusia Mall

Esai FX Rudy Gunawan

Warga desa tersihir oleh kota antara lain karena mall sebagai pewujudan ideologi konsumsi. Sihir ini antara lain memakai peran media sebagai saluran propaganda melalui iklan yang sangat besar membentuk dan menancapkan ideologi konsumsi dalam proses kehidupan sosial masyarakat dan struktur universal dari makna ideologi konsumsi. Melalui media (cetak, elektronik, online) setiap hari propaganda ideologi konsumsi terus-menerus ditancapkan dalam kesadaran masyarakat. The content of the mall experience adalah “the form of the content”. Isi pengalaman berada di mall adalah bentuk dari isi itu sendiri. Fantasi yang dibangun melalui desain dan arsitektur mall digunakan untuk memperkuat budaya konsumsi global kehidupan modern dengan sistem tanda yang terus diproduksi oleh media images, status pressure dan advertising.

Perilaku masyarakat yang dipengaruhi propaganda konsumerisme, termasuk rakyat desa, menjadikan belanja sebagai hobi yang mungkin paling banyak diminati. Konsumerisme sebagai hobi merupakan pemuasan kesenangan ganda. Pola konsumsi yang dibentuk oleh kapitalisme membuat konsumerisme menjadi budaya masyarakat dari segala lapisan dan latar belakang apapun. Semua melebur menjadi konsumen dengan hobi belanja dan identitas diri yang ditentukan oleh hobi dan pola konsumsi mereka. Dan semua proses ini terlaksana dengan cepat antara lain karena kekuatan media massa yang juga telah menjadi bagian dari industri kapitalisme global.

Proses ini juga diperkuat oleh keberhasilan menancapkan hedonisme pada eksistensi manusia sebagai shopping being. Hedonisme sebagai pemujaan dan pengejaran terhadap pemuasan kesenangan adalah salah satu konstruksi dasar kapitalisme dalam membentuk pola perilaku masyarakat kapitalis. Karena itu, membaca sistem tanda mall harus dibagi dua, yaitu membaca penanda (signification) secara paradigmatik dan sintagmatik. Paradigmatik melibatkan motif desain mall karena mall sendiri adalah sebuah tanda dan sintagmatik adalah membaca elemen-elemen terpisah di dalam mall dimana makna diproduksi melalui metonymy atau contiguity. Konten dan ekspresi yang direpresentasikan mall pun mengalami dikotomi dalam pengalaman individual para manusia mall. Membaca eksistensi manusia mall sebagai shopping being, dengan sendirinya juga harus dilakukan dengan secara paradigmatik dan sintagmatik.

Paradigmatik bisa dibaca melalui image manusia shopping being dari berbagai sumber yang dikonstruksi oleh ideologi konsumsi. Sintagmatik bisa dilakukan dengan cara analisa semua elemen dalam eksistensi shopping being dan elemen-elemen dunia baru yang menjadi ruang meng-ada semua manusia konsumsi. Membedah ideologi konsumsi yang muncul sebagai propaganda media adalah salah satu hal penting dalam membaca secara sintagmatik. Dengan cara ini dasar filosofis eksistensial shopping being (aku belanja maka aku ada) akan terpetakan, baik secara sosial, kultural, maupun politik dan ekonomi. *

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*