Hebatnya Perpustakaan Desa Pandan Wangi, Juara Nasional 2014

Hebatnya Perpustakaan Desa Pandan Wangi, Juara Nasional 2014

Berdesa.com – Buku adalah jendela dunia, sebagian besar orang meyakini ujaran itu. Tapi bagaimana membuat orang menjadi gemar membaca itu perkara lain yang jauh lebih rumit daripada sekedar memahami peribahasa. Apalagi mengajak orang desa mau membaca di Perpustakaan Desa. Maka mari belajar dari prestasi Desa Pandanwangi, Kecamatan Tempeh, Lumajang, Jawa Timur. Inilah desa yang perpustakaannya menyabet Juara Nasional pada 2014 lalu. Bagaimana Pandanwangi mengelolanya?

Namanya Perpustakaan Tunas Bangsa dan berdiri pada 10 Desember 2010 lalu. Awalnya hanya ada 50 biji buku saja di perpustakaan ini. Dengan jumlah segelintir itu tentu saja sulit bagi Tunas Bangsa mengundang banyak orang untuk membaca. Itupun buku bantuan dari Kantor Perpustakaan dan Arsip Lumajang. Kala itu namanya masih Rumah Baca.

Sama dengan beberapa perpustakaan desa lainnya, Berbulan-bulan Tunas Bangsa kesulitan memincut hati warga desa untuk datang dan membaca. Apalagi biaya operasionalnya masih minim kala itu. Lalu tahun 2012 perpustakaan mungil ini berpindah ke tempat yang memiliki kedekatan dengan beberapa komunitas yang membutuhkan bacaan seperti sekolah dan kelompok anak muda yang sedang sangat membutuhkan pengetahuan baru. Hasilnya?

Langkah pegiat Tunas Bangsa cukup mujarab. Pelan tapi pasti, anak-anak sekolah di kampung itu mulai tertarik membaca. Usaha para pegiat perpustakaan makin gencar, mereka terus mengumpulkan buku dari hari ke hari. Buku-buku itu sebagian besar adalah buku yang isinya menjawab berbagai persoalan keseharian warga seperti buku-buku pertanian misalnya cara mengembangkan tanaman, cara menangkal hama, cara mengolah tanah, dan sebagainya.

Tak hanya soal pertanian, buku ini juga memberi banyak pengetahuan mengenai teknologi sederhana yang bisa dikembangkan warga lokal. Misalnya buku tentang pertukangan, peternakan, perikanan dan sebagainya. Hasilnya, warga masyarakat mulai tergugah datang ke perpustakaan dan melahap bacan-bacaan di sana.

Pola perilaku gemar membaca itupun segera menunjukkan pengaruh positif bagi warga lokal, mereka menjadi pahamlebih banyak berbagai keahlian baru dalam bidang pertanian dan berbagai informasi mengenai teknologi sederhana yang bisa mereka terapkan dalam sistem pertanian yang ada dalam kehidupan mereka.

Ketika menyabet gelar Perpustakaan Terbaik Nasional 2014 lalu jumlah pengunjung rutin perpustakaan ini setiap hari sekitar 35 hingga 45 orang. Sebagian besar adalah anak-anak pelajar tetapi separuhnya warga usia 40-an tahun yang datang ke sana untuk mendapatkan berbagai informasi menyangkut pekerjaan mereka sehari-hari. Perpustakaan Desa Pandanwangi terbukti menciptakan lompatan pengetahuan yang luar biasa di desa itu.

Kini jumlah buku di perpustakaan ini mencapai 4900 buah dengan beragam ilmu pengetahuan luar biasa di dalamnya dan terus menciptakan peningkatan perubahan bagi seluruh warga desa. Tak berlebihan makanya, desa ini layak menyandang gelar Perpustakaan Desa Terbaik Tingkat Nasional 2014. Tunas Bangsa adalah contoh yang sangat layak jadi contoh bagi desa lain di Indonesia, dengan cara yang cerdas sebuah desa mampu meningkatkan kualitas intelektual warganya. (adji/berdesa.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*