Gampong-gampong di Aceh Genjot Penguatan Lembaga Dukung BUMG

Gampong-gampong di Aceh Genjot Penguatan Lembaga Dukung BUMG

BERDESA.COM – Sebagaimana desa-desa lain di belahan nusantara, gampong-gampong di Aceh juga sedang menggenjot penguatan lembaga gampong untuk memacu pengembangan gampong melalui Badan Usaha Milik Gampong (BUMG). Seperti yang dilakukan Kabupaten Aceh Barat ini, para Keuchik (kepala desa) dan pengurus BUMG mengikuti pelatihan untuk membangun BUMG mereka.

Untuk memperkuat pemahaman mengenai BUMG, sebanyak 21 gampong mengikuti Lokakarya Tata Kelola BUMG yang digelar Kompak, 21-23 Juli 2017 lalu. Kompak adalah lembaga yang lahir dari kemitraan Pemerintah Australia dan Indonesia dalam mendukung program pengentasan kemiskinan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional. Aceh adalah satu dari tujuh wilayah yang menjadi area program kemitraan ini dilaksanakan.

Berbagai inisiasi muncul dalam loka karya penguatan lembaga gampong yang mengundang beberapa nara sumber dari PT Usaha Desa Sejahtera. Mohammad Najib, Founder PT Usaha Desa Sejahtera (Usdes), social enterprise yang fokus mendorong peningkatan kesejahteraan desa se-Indonesia menyatakan, BUMG adalah salahsatu lokomotif yang sangat strategis menggenjot kesejahteraan gampong dengan mengandalkan potensi lokalnya. Usdes juga siap menjembatani berbagai komoditas lokal untuk memasuki pasar global melalui platform marketplace Usahadesa.com yang dibangun Usdes.

Acara ini juga menghadirkan Agus Setyanta, Direktur BUMDesa Amarta, Desa Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta yang sukses membangun usaha pengelolaan sampah di desanya. Agus berbagi pengalaman tata cara mendirikan dan mengelola BUMDesa pada para peserta yang datang dari berbagai gampong di Aceh.

Agus bertutur, salahsatu proses penting yang harus dilewati desa dalam membangun BUMDesa adalah proses musyawarah desa yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat melalui tokoh-tokoh yang mewakilinya. “ BUMDesa atau BUMG mensyaratkan keterlibatan seluruh unsur desa dalam pendiriannya. Ini adalah kunci agar BUMDesa menjadi lembaga usaha yang bertenaga dalam membangun usaha karena harus melibatkan banyak bagian masyarakat,” katanya.

Pengalaman Agus mendapat sambutan hangat para peserta loka karya karena faktanya belum banyak BUMDesa yang mampu mencapai langkah seperti BUMDesa Amarta. “ BUMDesa Amarta belum mampu mencapai omset usaha yang hebat, tetapi kami membuktikan bahwa BUMDesa sangat bisa menjadi lembaga yang bergerak di dua jalur sekaligus yakni lembaga usaha yang bisa menghidupi perusahaan, membuka lapangan kerja sekaligus membantu desa mengatasi persoalan,” ujar Agus. Desa Pandowoharjo yang terletak di dekat perkotaan di Yogyakarta adalah salahsatu desa yang memiliki masalah dengan banyaknya sampah. “Makanya BUMDesa mengambil penanganan sampah sebagai unit usaha pertama,” katanya.

Data Berdesa memapar, sebagian besar gampong di Aceh telah mendirikan BUMG. Tetapi sebagian besar belum mengembang karena berbagai kendala. Loka karya ini salahsatu gelaran Kompak sebagai awal perumusan program pemberdayaan BUMG yang bakal terus dilakukan ke depan dengan memacu gampong-gampong di Aceh. Kompak menargetkan agar gampong-gampong di Aceh mampu mengidentifikasi potensinya sendiri, mengolah dan mengembangkannya sebagai daya dorong peningkatan kesejahteraan desa/gampong.

Meski pernah dikoyak bencana tsunami yang merenggut ratusan ribu nyawa dan menghancurkan harta benda, tetapi even ini membuktikan para Keuchik alias kepala desa dan pengurus BUMG sangat antusias membangun kesejahteraan desa.(aryadji/berdesa)

Foto: Berdesa.doc

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*