Evaluasi dan Audit BUMDesa, Apakah Sama dengan Perusahaan Umumnya?

0
2033

BERDESA.COM – Selayaknya perusahaan profesional lainnya, Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) juga wajib melakukan evaluasi kerja dan audit. Tanpa dua hal ini BUMDesa hanya akan mengulang kisah program-program sebelumnya yang berakhir tanpa kejelasan.

Persoalan evaluasi pada BUMDesa bukan masalah mudah. Bukan hanya karena BUMDesa masih berupa konsep lembaga bagu saja melainkan karena pihak yang melakukan evaluasi juga musti memiliki kemampuan analisa bisnis yang kuat. Sementara, lagi-lagi, perangkat desa dan sebagian besar pengurus BUMDesa adalah orang-orang yang umumnya belum memiliki pengalaman bisnis dalam skala besar.

Akibatnya forum evaluasi BUMDesa seringkali menjadi ruang adu argumen dengan pemahaman konsepsi bisnis yang tidak teruji. Bayangkan saja dua pihak berdebat tetapi kedua-duanya menggunakan dasar alasan yang tidak cukup kuat. Perdebatan seperti ini sudah pasti bakal menjadi aneh saja.

Auditing juga bukan perkara mudah. Pihak auditor haruslah orang yang memiliki kemampuan dan pemahaman sistem bisnis, bukan sembarang melakukan penelusuran tanpa melihat bagaimana proses yang terjadi di dalamnya. Bayangkan saja orang yang tidak memiliki kompetensi di bidang bisnis melakukan auditing lembaga bisnis. Salah kaprah yang terjadi kemudian.

Baca Juga  Kerangka Gagasan Potensi Ekonomi Desa

Karenanya sejak awal berjalan, sebuah usaha yang dijalankan BUMDesa haruslah menegakkan prinsip-prinsip dasar usaha yang jelas dan pasti. Termasuk target omset dan sebagainya dari setiap unit usaha yang ada. Sehingga ada patokan yang jelas dalam melakukan evaluasi. Jangan sampai forum evaluasi menjadi ajang penyerangan satu pihak ke arah manajemen BUMDesa.

Sistem manajemen usaha sendiri merupakan bagian dari urusan yang komplek dari keseluruhan hal yang ada dalam sebuah usaha. Karena ini adalah lembaga bisnis, maka akan selalu ada kemungkinan gagal atau mandeg sebuah usaha. Artinya, kemungkinan sebuah usaha BUMDesa mengalami kegagalan bukan hanya sama dengan bentuk unit usaha swasta lainnya melainkan justru lebih besar. Apa pasal?

Perusahaan swasta murni lahir dengan kepentingan yang jauh lebih terukur dan pragmatis yakni profit. Hal itu mengharuskan perusahaan-perusahaan itu sangat mengutamakan perolehan keuntungan dan perkembangan bisnis dalam segala aspek sebagai ukuran keberhasilan manajemen.

Sementara BUMDesa, sejak awal mengalami kesulitan melakukan rekruitmen sumber daya karena keberadaannya di desa dan harus mengutamakan orang lokal. Sudah begitu BUMDesa dilahirkan oleh proses yang bukan dijalankan orang-orang yang memiliki kapasitas bisnis. Hasilnya, BUMDesa harus menempuh jalan yang lebih sulit untuk bisa mengembang dibanding perusahaan swasta umumnya.

Baca Juga  Memahami Karakter Demokrasi Desa

Konteks inilah yang harus diperhatikan dalam evaluasi dan auditing terhadap BUMDesa. Evaluasi dan auditing BUMDesa tidak bisa disamakan dengan lembaga usaha biasa karena berbagai hambatan sosial yang dihadapi BUMDesa. Apaagi BUMDesa adalah lembaga usaha yang masih terbilang baru dalam wacana desa sehingga bahkan masih banyak pengurus BUMDesa yang masih bingung bagaimana menjalankannya.(aryadji/berdesa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here