Eksisnya Lurik, Produk Desa Pengusung Nilai Budaya

0
382

BERDESA.COM – Bolehlah Paris, Perancis disebut sebagai kiblat mode dunia. Tapi sesungguhnya kita tidak perlu melongok ke negeri nan jauh dengan musim yang jelas berbeda dengan negeri Indonesia itu. Soalnya Indonesia sendiri punya beragam pesona fesyen berbahan tradisional asli produk desa. Salahsatunya lurik buatan Yogyakarta yang diproduksi warga desa.

Lurik sudah memikat kita sejak dari namanya. Berasal dari kata ‘rik’ yang berarti pagar atau pelindung sang pemakai sehingga lurik mengandung makna sebagai cermin sang pemakai. Lurik berbeda dengan tekstil yang diproduksi massal dengan mesin, lurik dibuat secara konvensional mengunakan mesin tenun dan setiap coraknya mengandung makna tertentu. Lurik adalah produk budaya.

Kurnia Lurik adalah salahsatu rumah penghasil lurik yang eksis hingga hari ini. Terletak di KM 3,5 Jl Parangtritis, Yogyakarta, Kurnia bak penjaga tradisi nilai luhur lurik. Bagaimana tidak, ketika industri fesyen bergerak cepat dan berkiblat ke pusat-pusat mode dunia, salahsatunya Paris, Kurnia tetap setia melahirkan produk desa, lurik. Ratusan lembar lurik lahir dari tangan para pewaris produk budaya ini setiap hari. Inilah yang membuat Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta disebut sebagai pusatnya lurik di Kota Budaya.

Baca Juga  Strategisnya UKM Jualan di Pasar Online

Selain memenuhi kebutuhan ‘fesyen tradisional’ yang menjadi pasar paling lestari dari lurik selama ini, lurik juga terus melakukan inovasi untuk bisa bersaing di jagad kain modern. Karenanya Kurnia terus mengembangkan motif luriknya serta melahirkan berbagai produk turunan lurik seperti kemeja, tas dan tentu saja pakaian adat Jawa.

Maraknya jual beli online juga menjadi salahsatu alat yang membuat corak lurik lebih dikenal masyarakat luas kini. Jangan aget jika produk-produk lurik mulai memasuki industri fesyen online. Kini sebagian karya para penenun lurik Kurnia sudah terpajang di www.usahadesa.com. Akankah lurik bisa bersiang dengan fesyen modern?

Itta Enima adhttp://www.usahadesa.comalah salahsatu perempuan muda yang menancapkan dirinya dalam fesyen berbahan kain-kain tradisional, salahsatunya lurik. “ Saya yakin lurik bisa berkembang bahkan menjadi ikon yang unik dalam fesyen jika digarap serius begitu juga kain tradisional lainnya,” kata pemilik Java Studio ini. Faktanya selama ini lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta itu menekuni bahan-bahan seperti lurik di rumah produksinya dan terus mengembang. “ Pesanan selalu datang dan disain produk seperti ini juga menantang karena unik,” kata disainer yang tinggal di Bantul, Yogyakarta ini.

Baca Juga  Kopi Desa dan Desa Kopi

Lurik, kata Itta, bahkan memiliki kelas khusus dalam segmen-nya. “ Rata-rata yang memesan disain pakaian lurik justru kalangan menengah dan orang-orang yang melek fesyen. Jadi lurik punya nilai yang tinggi di antara jenis kain lainnya,” katanya. Itta yang menggarap segmen khususnya perempuan ini bahkan mematok karyanya di atas Rp. 250 ribu per potong. “ Nyatanya pemesan tak pernah sepi di rumah produksi kami,” kata dia.

Posisi lurik juga yang unik itu juga karena hingga saat ini lurik digunakan orang-orang penting di Keraton Yogyakarta dan kalangan elit sosial masyarakat. Sehingga lurik memiliki posisi sosial khusus sebagai sebuah komoditi. Selain itu Lurik, kata Itta, sesungguhnya jenis kain yang gampang dipadu-padankan dengan kain lainnya. Makanya lurik sangat responsif untuk menjadi bahan tas, dompet, atau sarung model kabuki yang mirip dengan celana tradisional laki-laki di Jepang.

“ Kenapa kita harus berkiblat pada tren negeri lain yang jelas dari musimnya saja berbeda dengan kita.  Yang paling menyedihkan adalah, kenapa produk desa yang begitu indah seperti lurik dan beragam kain tenun tradisional yang coraknya sangat khas malah dilupakan. Bukankah jika kita serius mengolahnya itu justru bisa kita jual di pasar internasional?’ tutur Itta.(aryadji)

Baca Juga  Meningkatkan Daya Jual Produk UKM dari Kemasan

Foto: www.flickr.com

Baca juga: Lurik, Kain Tenun Sarat Nilai Budaya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here