Dibalik Pesona Desa Wisata Nglanggeran. Efek Domino yang Mensejahterakan Warga

Dibalik Pesona Desa Wisata Nglanggeran Efek Domino yang Mensejahterakan Warga

BERDESA.COM – Sebuah desa di Gunungkidul, Yogyakarta, menyentak dunia. Raksasa-raksasa bebatuan vulkanik yang jutaan tahun tertidur lelap dalam misteri itu seperti terbangun. Itulah Gunung Api Purba di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul Yogyakarta, yang kini menjadi desa wisata Jogja yang terus dibanjiri orang bagai bergelombang-gelombang.

Mendaki gegunung batu ini akan membuat siapapun seperti terlempar ke masa jutaan tahun lalu. Tumpukan batu vulkanik dengan ukuran yangs sulit digambarkan saking besarnya, seperti ribuan raksasa berjajaran dengan tinggi ratusan meter. Panorama Jogja yang elok terpampang dengan luar biasa ketika menginjakkan kaki di puncak-puncak bebatuan ini. Di sela-sela raksasa itu berhamparan pelataran-pelataran kecil berlantai rerumputan nan sejuk tempat anak-anak muda menghabiskan malam mengelilingi api unggun perkemahan mereka.

Meski jalur mendaki, terhimpit dalam celah-celah sempit raksasa batu dan rimbun pohon, seluruh area gunung ini sangat bersih. Seminggu dua kali seluruh pelataran dibersihkan anak-anak muda-nya. Bahkan jika ada sampah plastik tercecer, itu bukan karena pengunjung yang sembarangan membuang sampah, atau kelalaian petugas kebersihan melainkan karena tingkah kera. Ya, kera-kera yang hidup permai di sini sering mengaduk-aduk tempat sampah dan mengeluarkan plastik-plastik. Anda penasaran?

Gampang saja, buka Google dan segeralah Googling. Dalam sekejab beragam potret keindahan gunung batu dari berbagai sisi bakal segera membuat Anda takjub dan Anda pasti akan memasukkan tempat ini dalam daftar tempat yang harus segera dikunjungi. Dari Google dengan mudah Anda juga akan mendapatkan eloknya telaga buatan di puncak bukit, beberapa ratus meter dari gunung purba. Rasakan pula tantangan andrenalin fliying fox atau gemuruh riak air terjun. Jika tubuh Anda kelelahan karena keliling desa nan indah ini, singgahlah ke Soto Mbak Jam, rasakan cita rasa desa yang tak hanya lezat tapi segar bukan main. Maka pertanyaan terbesarnya adalah: bagaimana bisa deretan tempat dan suasana menakjubkan ini tercipta dan siapa yang melakukannya?

Tahun 1999 lalu warga Nglanggeran, seperti halnya warga kampung-kampung lain di wilayah pegunungan, memiliki masalah dengan air untuk minum maupun untuk sawah-sawah mereka. Lalu mereka sepakat untuk menghijaukan sela-sela bebatuan raksasa itu dengan menanami pohon sebagai penangkap air untuk desa mereka. Sampai saat itu warga di kampung ini menganggap gunung batu ini sebagai tempat keramat sekaligus misterius.

Lalu 2007 lalu, misteri raksasa-raksasa batu itu mulai mengusik orang. Hari demi hari, jumlah orang datang makin bertambah dan terus bertambah. Warga desa mulai menyadari mereka memiliki harta karun yang jutaan tahun telah menguni desa mereka, gunung purba. Warga desa lalu sepakat membangunkan para raksasa, menjadi obyek wisata yang terbukti dalam waktu singkat menjadi desa wisata baru, magnit pariwisata Yogyakarta.

Jangan salah, untuk menjadi desa wisata seperti sekarang, seluruh warga desa ini bekerja keras membagi peran, bahu-membahu membangun kerjasama menghijaukan gunung batu, membersihkan seluruh jalur pendakian secara rutin dan membangun berbagai fasilitas umum seperti kamar mandi, undakan batu, papan arah, berbagai penjelasan mengenai situs, pondok untuk berisitirahat, menyiapkan lapangan berkemah lengkap dengan paket kayu bakar untuk api unggun dan transportasi menuju ke sana. Beberapa tahun ini beberapa homestay melengkapi semua fasilitas itu. Kini, sedikitnya Rp. 1,5 milyar omset dalam sebulan didapat situs wisata menakjubkan ini.  Obyek wisata ini juga sudah memberikan sumbangan rutin tiap bulan bagi kas desa.

Sugeng Handoko, 28 tahun, salahsatu pemuda pengurus desa wisata ini mengungkap, sedikitnya 150 pemuda desa-nya terlibat aktif di seluruh kegiatan pelayanan wisata ini mulai dari pemandu wisata, pengurus homestay hingga tukang bersih-bersih seminggu dua kali. “ Semuanya aktif dan mereka mendapat income dihitung dari kinerja mereka,” kata pemuda asli Desa Nglanggeran itu. JIka Anda datang ke tempat ini, mereka guyub-rukun dan sangat ramah melayani para tamu yang berkunjung.

“ Membangun kesadaran wisata melalui kelompok sadar wisata bukan proses yang pendek. Inilah yang terpenting dari proses terbangunnya desa wisata,” ujar Sugeng. Tak cukup membangun kekompakan, inovasi juga harus terus dilakukan. “ Banyak desa sekarang ini berlomba mendatangkan wisatawan ke kampung mereka. Maka kita harus memiliki nilai unggul yang dibangun terus-menerus. Salahsatunya ya kualitas service kepada para wisatawan,” katanya

Visi bersama seluruh arga adalah kunci penting. Di Nglanggeran, seluruh warga sepakat untuk menjaga atmosfir wisata hingga relung yang paling kecil. Misalnya, disain rumah untuk homestay harus bersuasana desa khas Jogja. “ Ada homestay yang dibangun dengan gaya modern, hasilnya malah tidak diminati para penyewa,” katanya.

Kedatangan ribuan wisatawan ke desa ini segera mendorong berbagai potensi ekonomi baru. Beragam produk makanan yang dibuat para ibu mendapatkan pasar yang cukup luas. Seperti criping pisang, criping pisang cokelat dan sebagainya. Soalnya kini mereka tak perlu repot-repot menawarkan dagangannya ke berbagai tempat. Ribuan orang yang datang mengunjungi desanya sudah pasti menjadi konsumen empuk bagi produk mereka dan laris.

Bukan itu saja, bahkan para bapak yang membangun kelompok ternak kambing juga mengalami perkembangan menarik. Jika Anda melihat kandang kambing kelompok yang ada di kampung ini Anda bakal heran karena sangat bersih, rapi dengan konstruksi yang bagus. “ Segala hal yang dilakukan masyarakat memang harus menarik di lihat orang, termasuk kandang kambing sekalipun,” ujar Basuki, salahsatu peternak yang tergabung dalam kelompok.

Begitulah Nglanggeran yang menakjubkan, bukan hanya gunung purbanya yang misterius saja melainkan peri kehidupan warganya yang ramah dan kompak. Alhasil, siapapun yang datang ke desa ini, pasti bakal kangen untuk datang lagi dan lagi.  (dji-1)

foto: berdesa dok.

Tips : Merintis Pendirian Desa Wisata

Baca juga : Potensi BUMDesa Kelola Wisata Alam
Pendamping Desa

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*