Dari Desa Para Perempuan Ini Merambah Dunia

Dari Desa Para Perempuan Ini Merambah Dunia

BERDESA.COM – Perubahan besar bahkan bisa terjadi karena ide sederhana. Seperti yang terjadi pada seorang Maryanti, ibu tiga anak warga Kampung Ngireng-ireng, Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul. Rencana menjadikan kain perca jadi lap oli di bengkel motor suaminya berbelok menjadi usaha aneka produk cantik berbahan perca.

Kepada Berdesa.com  Maryanti bercerita, ide itu datang ketika suatu kali seoang saudaranya membawa sekantung besar kain percaya. “ Suami saya pesan potongan-potongan kain itu untuk lap oli di bengkel,” kisahnya. Tetapi pikirannya langsung bergerak ke arah lain begitu melihat warna-warni corak kain yang cantik. “ Saya jadi ingat kenapa saya tidak manfaatkan kemampuan menjahit saya dan membuat sesuatu dengan kain-kain itu?” kenangnya. Itulah keputusan sederhana yang kemudian membuat ekonomi keluarganya berubah drastis kemudian.

Tapi tak ada hasil tanpa kerja keras. Awalnya ibu rumah tangga ini membuat disain tas kantung sederhana dari ‘cuilan-cuilan’ kain itu dan menawarkannya pada beberapa mahasiswa Insitut Seni Indonesia (ISI) yang kost di kampungnya. Kebetulan kampung ini memang dekat dengan Kampus ISI. Tak diduga, bukan hanya tertarik tas itu, para mahasiswa malah menawarkan untuk membuatkan disain yang lebih menarik. Hasilnya?

Dalam beberapa bulan terjadi lompatan besar, tas-tas Maryanti laris manis dibeli orang. “ Para mahasiswa bahkan membantu saya menembus pasar di Kalimantan dan beberapa derah lain di Indonesia melalui kolega-kolega para mahasiswa,” katanya. Kini Maryanti memiliki lebih dari 20 jenis model dan 15 mitra yang rutin memproduksi tas warna-warni itu. Maryanti membuktikan, meski tinggal di desa, di tengah perkampungan tetapi tetap mampu menciptakan lompatan besar dari sana.

Lain Maryanti lain Widanti. Perempuan berjilbab paruh baya ini kini tinggal duduk manis sambil melayani para tamu yang silih berganti datang ke galerinya di dusun Kweni, di dekat Jalan Bantul. Meski hanya berukuran 6 X 4 meter, tetapi galeri terbuka itu memancarkan begitu banyak jangkauan usaha.

Produk utamanya adalah mainan Puzzle dari limbah kayu. Kini produknya telah menembus pasar ekspor ke berbagai negara. Begitu banyak pesanan sehingga bahkan Widanti memilih menekuni usaha ini secara serius.

Ide Widanti sederhana, dia melihat banyak limbah kayu dari para pengrajin di sekitar rumahnya. Potongan-potongan itu selama ini hanya digunakan sebagai kayu bakar saja.” Kenapa tidak dipakai membuat aneka ragam suvenir, aksesori atau mainan edukatif. Bukankah ini bisa dikerjakan para tukang kayu di kampung,” kisahnya.

Hari demi hari usahanya berkembang bahkan beberapa turis asing yang mampir ke rumahnya jatuh cinta. Kini, Widanti laris manis menjual produknya ke Perancis dan beberapa negara. “ Kami bahkan seringkali kewalahan dengan permintaan yang datang,” katanya.

Dengan usaha ini Widanti juga membantu banyak orang mendapatkan pekerjaan. Beberapa pemuda dia rekrut, dilatih pertukangan dan mengerjakan pesanan yang terus datang.” Sekarang saya melepas mereka dan menjadikan mereka sebagai partner bisnis, mereka produsen, saya pemasaran,” katanya.

Tak hanya kayu, kreativitas galerinya juga melebar ke berbagai produk seperti boneka kain, mainan anak tradisional dan beragam produk yang bisa berfungsi sebagai hiasan rumah tangga. Alhasil, urusan ekonomi keluarganya kini sudah tak perlu dia pusingkan lagi. Usaha ini membuatnya mencapai lompatan ekonomi.“ Saya siap share pengalaman dan kerjasama usaha kalau ada teman-teman yang tertarik dengan usaha seperti ini,” ujarnya. (aryadji)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*