Desa Girisuko, Akhiri Kekeringan dengan Pompa Air Tenaga Surya

0
1153

Berdesa.com – Selalu ada jalan memecahkan masalah. Seperti yang dialami warga Desa Girisuko, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, ini. Selama bertahun-tahun warga desa di atas perbukitan kapur ini harus menanggung derita kekeringan hingga harus membeli air bersih menggunakan tanki dengan harga Rp. 150 ribu untuk 5 kubik air.

Sebenarnya wilayah Gunungkidul memiliki banyak sumber mata air jernih alami. Sayangnya, sumber air itu berada jauh di bawah tanah alias di perut bumi. Untuk menaikkan air, butuh tenaga listrik besar. Usaha untuk itu sudah dilakukan tetapi kemudian mangkrak selama 10 tahun karena tidak ada aliran listrik yang bisa digunakan. Hingga Februari 2018 lalu mimpi buruk kekeringan itu menemui solusi. Tower yang menganggur itu akhirnya beroperasi setelah dipasang Sistem Pengolahan Air Minum (SPAM) Sistem Pompa Air Tenaga Surya (SPATS).

Pembangunan SPAT ini dilakukan Kementerian Ristek dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdkiti). Menteri Ristekdikti langsung brada di lokasi di Dusun Temuireng, Girisuko Panggang meresmikan beroperasinya alat bertenaga sinar matahari ini, beberapa waktu lalu. “ Ini jalan keluar untuk masyarakat, sudah 10 tahun lebih ada tower penampunga air tapi tidak bisa dimanfaatkan karena tidak ada pemompanya. Akhirnya saat ini dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatasi masalah ini,” kata Mohammad Natsir.

Baca Juga  Kesetaraan Ekonomi Bisa Dilakukan dengan Teknologi Informasi

Kini pembangkit tenaga surya ini sudah bisa memompa air untuk memenuhi 269 keluarga di Dusun Temuireng, Girisuko. Selama ini warga Temuireng harus menguras kantung mereka untuk membeli air demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari tiap kemarau melanda.

Alat ini, mampu memompa air sekitar 70 meter kubik/hari menggunakan 6,4 Wp sistem pengakit tenaga surya yang langsung dirangkaikan dengan pompa submerible. Hasilnya, mampu menjangkau bak penampung yang berjarak 741 meter dengan ketinggian 80 meter dari pemasangan alat. “ Diharapkan sistem pengolahan air memannfaatkan tenaga energy terbarukan yang ramah lingkungan ini dapat diterapkan di lokasi lainnya,” kata Menteri Ristekdikti. Soalnya, di Gunungkidul masih banyak desa yang mengalami kekeringan ketika kemarau tiba.

Selanjutnya diminta agar peralatan ini dikelola dengan baik oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar bisa menciptakan manfaat yang besar bagi warga dalam jangka panjang. Soalnya peralatan ini mampu beroperasi selama 20 tahun dan tidak perlu tergantung lagi dengan pemerintah. Bagaimana alat ini bekerja?

Baca Juga  Desa-Desa Wisata Yang Memiliki Spot Instragramable

Peneliti BPPT Pusat Asnatio Lasman menyatakan, peralatan SPAM SPATS ini bekerja dengan memanfaatkan tenaga sinar matahari dengan tida menggunakan penyimpan daya. Sehingga semakin banyak sinar matahari tertangkap oleh panel penangkap eneri maka semakin besar pula debit air yang bisa dipompa. Air yang dipompa bersumber dari PDAM Ngobaran dan Baron. Cara kerjanya, air dipoma menuju tempat yang tinggi lalu dengan gaya gravitasi akan dialirkan ke rumah-rumah warga. Hasilnya, kemarau tak perlu lagi mengalami kekeringan seperti yang selama ini terjadi.(aryadji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here