Daya Beli Masyarakat Lemah, Ini Penjelasan dari Nielsen Indonesia

Daya Beli Masyarakat Lemah, Ini Penjelasan dari Nielsen Indonesia

Berdesa.com – Penyebab utama tutupnya banyak gerai retail di Indonesia adalah karena lemahnya daya beli masyarakat Indonesia saat ini. Akibatnya, deretan retail tidak mendapatkan income karena jarang disambangi pembeli. Daya beli tahun 2017 memang turun drastis dari pertumbuhan retail yang biasanya Rp. 49 triliun pada tahun-tahun sebelumnya atau 11 persen, 2017 hanya Rp. 12 triliun alias 2,7 persen. Akibatnya, berbagai gerai retail gulung tikar.

Executive Director The Nielsen Indonesia, lembaga yang membidangi riset ekonomi seperti ini, Yongky Suryo Susilo menyatakan, pasar ritel memang lesu. Menurutnya, ada dua penyebab yang membuat toko-toko ritel harus tutup. Pertama, pendapatan kalangan ekonomi menengah ke bawah hanya mengalami kenaikan pendapatan sangat sedikit. Padahal tingkat kenaikan harga kebutuhan hidup meningkat tajam. Akibatnya, masyarakat terutama kalangan bawah kesulitan memenuhi menjangkau pemenuhan kebutuhan ekonominya akibat kenaikan harga kebutuhan pokok yang terus membubung itu.

Yongki mencontohkan, peristiwa ini pernah terjadi beberapa tahun lalu ketika terjadi kenaikan Tarif Dasar Listrik yang mengakibatkan naiknya harga makanan. “ Dulu para pekerja di Jakarta bisa mendapatkan makan siang dengan uang Rp. 15 – 20 ribu sekali makan. Tetapi kenaikan listrik dan gas membuat sekali makan harus mengeluarkan uang Rp 30 ribu sekali makan,” katanya. Karenanya banyak pekerja yang memilih membawa makanan sendiri dari rumah agar lebih irit biaya.

Penyebab kedua, kalangan menengah ke atas yang sebenarnya memiliki uang lebih banyak dengan daya beli lebih tinggi juga memilih mengerem diri untuk tidak membelanjakan uangnya. Mereka yang biasanya berani berinvestasi dengan membeli property dan lain-lain memilih tiarap. Inilah dua penyebab daya beli masyarakat menurun drastis dan membuat banyak gerai retail memilih tutup karena tak mampu membayar biaya operasional yang tidak berbanding dengan pendapatan.

Tetapi Yongki yakin, mulai Oktober ini bakal terjadi kenaikan daya beli karena pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang memungkinkan masyarakat mendapatkan pekerjaan dan pendapatan baru. Salahsatunya adalah program dana desa yang saat ini mulai mampu menggerakkan perekonomian terutama di wilayah perdesaan Indonesia. Kenaikan daya beli juga diyakini bakal naik lebih baik lagi memasuki 2018 nanti karena program-program yang lain bakal segera menyusul dan mulai dilaksanakan.

Selain dua masalah tadi, beberapa kalangan menilai, salahsatu yang menyebabkan tutupnya gerai retail adalah maraknya transaksi online alias e-commerce. Analisa ini berangkat dari kenyataan makin banyaknya orang yang memilih melakukan transaksi jual beli menggunakan aplikasi internet. Juga meningkatnya penggunaan jasa kiriman akibat banyaknya lalu-lintas produk online. Fenomena ini bahkan tidak hanya terjadi di Indonesia. Diberbagai negara di dunia gerai retail harus menutup dirinya akibat meningkatnya sistem transaksi internet.(aryadji/berdesa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*