Dana Desa Harus Pula Atasi ‘Stunting’, Begini Penjelasannya

0
1242

Berdesa.com – Dana desa telah hampir identik dengan pembangunan ekonomi desa. Tapi tahukah Anda bahwa pandangan itu terlalu sempit. Dana Desa juga harus mengatasi berbagai persoalan pendidikan dan kesehatan warga desa. Salahsatunya masalah stunting. Apa itu stunting dan apakah desa Anda salahsatu yang masih mengalaminya?

Jadi, oleh World Health Organization (WHO), stunting adalah sebuah kondisi anak di bawah 5 tahun yang tinggi tubuhnya kurang dari rata-rata. Indonesia disebut sebagai negeri yang sepertiga Balita-nya masih mengalami stanting ini. Bukannya menurun bahkan tahun 2013 lalu presentase penderita Stunting menjadi 37,2 persen. Kenapa stunting disebut sebagai kondisi yang buruk. Begini penjelasannya:

  1. Terjadinya stunting menunjukkan si ibu mengalami gizi buruk ketika hamil dan juga ketika si anak sudah lahir.
  2. Karena kurangnya pengetahuan si ibu mengenai pentingnya pemenuhan gizi pada masa kehamilan juga ketika si ibu sudah melahirkan
  3. Karena terbatasnya fasilitas kesehatan termasuk layanan Ante Natal Care (ANC) alias pelayanan kesehtan bagi para ibu selama kehamilan dan pelayanan lainnya. Di desa-desa terpenvcil hal ni masih menjadi persoalan krusial.
  4. Ada berbagai daerah yang kesulitan mengakses makanan bergizi karena harga makanan bergizi di Indonesia tergolong mahal
  5. Karena air bersih yang sulit dan sanitasi yang buruk di lingkungan desa.
Baca Juga  Program Swakelola Dana Desa, Begini Contohnya

Kondisi Balita yang mengalami masalah ini bakal mengalami gangguan perkambangan otak, kecerdasan, pertumbuhan fisik (jadi pendek dan kecil), gangguan metabolism dan gangguan pertumbuhan. Dalam jangka panjang bakal bisa mengakibatkan menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya sistem kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, gampang terserang diabetes, kegemukan, penyakit jantung, pembuluh darah, kanker, stoke dan disabilitas pada usia tua.

Jadi, jangan sampai dana desa hanya difokuskan hanya untuk penanganan masalah ekonomi saja sehingga anak-anak yang menjadi generasi masa depan malah tidak terperhatikan dan harus menjalani kehidupan panjang yang penuh penderitaan di masa depan. Maka, dana desa harus pula bisa mengatasi masalah stunting ini. Apa saja yang harus dilakukan pemerintah desa dalam meangani masalah ini? Maka harus dilakukan kegiatan-kegiatan berskala desa dengan pembiayaan yang dibebankan pada APBDes.

Salahsatu desa yang sudah melakukan kegiatan mengatasi stuntingnya adalah Desa Pandes, Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Desa ini sudah sejak dua tahun lalu bahkan telah menjalankan program Baby Café yakni mengolah makanan berbahan lokal berasal dari sawah warga sendiri sebagai asupan bagi Balita-balita di desa ini. Setiap pagi, seratus lima puluh ibu muda bakal membawa Balita-nya ke balai desa untuk mendapatkan semangkuk makanan sehat berbahan lokal yang diolah oleh kelompok ibu-ibu yang sudah mendapat pelatihan khusus.

Baca Juga  Desain APBN 2019 Prioritaskan Pembangunan SDM

Hasilnya, tingkat kesehatan para Balita itu sangat baik dan warga mulai paham bahwa sebenarnya makanan sehat bagi Balita bisa diolah dari bahan-bahan yang tumbuh di lingkungan sekitar mereka. Hebatnya, untuk mendapatkan makanan itu mereka harus membayar Rp. 3 ribu rupiah untuk satu mangkuk kecil. Kini, asupan sehat ini telah pula dibuat untuk para manula yang kesulitan mendapatkan asupan sehat yang gampang dicerna. Terobosan Pandes yang kreatif dan berbasis potensi lokal bisa dijadikan contoh bagi desa lain yang ingin mengatasi masalah Stunting di desanya.(aryadji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here