Dana Desa 2018 Bakal Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja Baru

Dana Desa 2018 Bakal Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja Baru

Berdesa.com – Jika dijalankan dengan efektif, pelaksanaan Program Dana Desa tahun 2018 ditargetkan bakal bisa membuka jutaan lapangan kerja baru di desa-desa seluruh Indonesia. Penyerapan lapangan kerja memang target utama Program Dana desa 2018 nanti.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo, usai mengikuti Rapat Terbatas (Ratas) di Kantor Presiden pekan lalu mengatakan, jika 30 persen (bukan 20 persen lagi) dari dana Rp. 60 triliun, dana desa dialokasikan untuk membayar upah pembangunan desa melalui proyek padat karya maka bakal tercipta lowongan kerja baru sebanyak 5,7 juta. Angka ini jelas sangat signifikan dalam menyerap tenaga kerja pedesaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat. “Penciptaan-penciptaan lapangan kerja ini kita fokuskan, ini dikawal langsung Pak Presiden sehingga diharapkan bakal lebih efektif,” kata Eko.

Jika 30 persen dialokasikan untuk upah berarti bakal ada dana Rp. 18 triliun yang bakal diterima sebagai upah oleh masyarakat pedesaan yang bekerja pada proyek padat karya. Diharapkan dana yang bakal dibayarkan secara harian itu itu bakal meningkatkan daya beli masyarakat desa yang saat ini sedang melesu.

Namun Menteri Desa menegaskan, upah yang diberikan pada tenaga kerja dalam Padat Karya nanti bakal lebih rendah dari Upah Minimum Provinsi (UMP), sekitar 80 persen saja. Soalnya, kalau upahnya sama dengan UMP maka bakal banyak orang yang sudah menjadi pingin berpindah ke proyek ini.

Selain dari proyek padat karya, dana desa juga menciptaka jutaan peluang kerja baru melalui berbagai upaya produktif desa terutama jika desa telah menciptakan Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades). Misalnya peningkatan produksi jagung, gula dan garam. Jika tiga produk itu dikembangkan maka bakal menyerap 10 juta tenaga kerja dan terjadi peningkatan kapasitas ekonomi di desa penghasil tiga komoditi itu.

Saat ini Indonesia masih harus melakukan impor jagung hingga 5 juta ton. Jika telah menjadi produk unggulan dan dikelola dengan baik maka pemenuhan pengganti kebutuhan ekspor ini bakal membuat 500 ribu hektar area pertanian menjadi aktif dan menghasilkan jagung. Itu sama saja dengan membuka peluang pendapatan bagi 5 juta orang. Bagi kabupaten yang serius mengembangkan komoditas pertanian seperti jagung ini, Kementerian Desa bekerjasama dengan berbagai kementerian telah siap memberikan insentif berupa bibit, pupuk, jembatan, traktor dan kebutuhan lain untuk mendukung pemenuhan jagung dan berbagai komoditi lain.

Jika jagung masih harus impor 5 juta ton setahun, negeri yang disebut kaya-raya ini juga masih harus impor gula 3,5 ton. Padahal jika saja warga desa mau menjadikannya produk unggulan dan mengembangkan potensinya, maka Indonesia tidak perlu ekspor gula. Jika itu bisa dilakukan maka bakal tercipta jutaan lapangan kerja di desa-desa.

Hingga hari ini, dana desa telah menciptakan rupa-rupa pembangunan desa. Berkat dana desa telah dibangun 121.709 kilometer, jembatan 1.960 kilometer, air bersih sebanyak 32.711 Unit, Polindes 6.041 unit, saluran irigasi 41.739 unit, drainase 590.371 unit, tambatan perahu 5.116 unit, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) 21.811 unit, embung 2.047 unit, MCK 82.356 unit, pasar desa 5.220 unit, bangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) 21.357 unit, Posyandu 13.973 unit, sumur 45.865 unit, penahan tanah 291.393 unit, dan sarana olahraga 2.366 unit. Tetapi semua itu terbangun bukan hanya karena dana desa saja melainkan swadaya masyarakat desa yang disumbangkan secara sukarela untuk membangun desa mereka.(aryadji/berdesa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*