‘Carpenter Village’, Berbagi Rejeki dari Produk Desa

‘Carpenter Village’, Berbagi Rejeki dari Produk Desa

BERDESA.COM – Tak banyak yang bisa dilakukan warga di perkampungan ini terhadap tanah mereka. Letak desa mereka di pegunungan membuat tanah mereka tak bisa diandalkan untuk bertani. Terlalu banyak bebatuan dan tak cukup air untuk tanaman di tanah tegalan mereka. Karenanya, sejak puluhan tahun lalu leluhur mereka telah melahirkan produk desa dengan bertukang kayu untuk menopang hidup mereka, hingga hari ini. Uniknya, seluruh warga memiliki peran yang berbeda-beda pada UKM ini.

Namanya Desa Temuwuh, Dlingo, Bantul, Yogyakarta. Di desa ini suara palu dan penyerut kayu adalah musik sehari-hari. Setiap hari seluruh warga berjibaku dengan keahlian mereka mengolah beragam jenis kayu sebagai pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) . Hasilnya, rupa-rupa peroduk desa mereka lahirkan tetapi yang paling banyak adalah membuat daun pintu dan jendela. Uniknya mereka memasarkan produk desa itu dengan cara konvensional.

Besari, 42 tahun, s alahsatu warga mengungkapkan, karena telah menjadi profesi turun-temurun, akhirnya mereka menerjuni pekerjaan yang sama dengan kakek dan bapaknya.” Di kampung kami tak perlu pusing cari kerjaan. Kalau mau bertukang kayu, tinggal jalan saja,” katanya. Yang dimaksud tinggal jalan saja adalah karena di desa ini warga sudah membagi perannya masing-masing. Semuanya masuk dalam standar UKM dan selama ini saling menopang dan menghidupi.

Sebagian warga memilih menjadi pencari bahan baku dan menjualnya dalam gelondongan. Warga lainnya membuka gergajian dan mengolah gelondongan menjadi lempengan-lempengan. Warga lainnya memilih menyiapkan modal untuk membeli bahan lalu diserahkan pada warga lain yang memilih menjadi pengolah kayunya menjadi hampir produk setengah jadi. Uniknya, kaum perempuan bahkan masuk ke rantai mata pencaharian ini.” Para perempuan bekerja pada bagian finishing atau penghalusan yaitu menggosok daun pintu. Biasanya dilakukan ibu-ibu,” ujar Tukimin, warga lainnya.

Setelah produk desa itu dinyatakan siap jual bakal ada dua pilihan. Si pemilik produk bisa menjualnya sendiri dengan membawanya ke kota dan dijual kelilingan. Biasanya mereka menggunakan mobil bak terbuka keliling kampung, perumahan dan pemukiman warga kora. Sebagian lagi menggunakan semacam gerobak dan menawari rumah ke rumah produk desa mereka.

Kalau ingin fokus pada pengerjaan produk, mereka bisa menyerahkan produknya pada kelompok warga yang menerjuni bagian pemasaran dan membuat perjanjian pembagian hasil dari penjualan. Cara ini lebih efisien karena si tukang kayu tak perlu repot memikirkan pemasaran produknya dan si penjual tak perlu pusing menyiapkan dagangannya. Begitulah jalur pembagian alamiah yang terjadi bertahun-tahun di kampung ini. Pembagian kerja pada rangkaian UKM ini terjadi secara alamiah.

Meski sudah berjalan lama tetapi warga kampung ini terus mencari cara melakukan pembaharuan mengenai cara mereka bekerja. Mereka ingin memiliki sistem kerja dan pemasaran yang jauh lebih efisien misalnya dengan menciptakan sistem pemasaran terpadu, packaging yang baik dan pasar lebih luas. Tujuannya, agar produk desa mereka mengalami perluasan pasar, kenaikan omset dan kualitas.

Mereka juga sedang mencari cara membangun sistem simpan pinjam yang bisa mencukupi kebutuhan modal mereka tetapi dengan bunga yang kecil dan kelenturan dalam pengembaliannya. “ Ada banyak warga yang nekat meminjam uang ke bank dan tak sanggup mengembalikan sehingga kehilangan tanah atau rumah. Kami berharap ada cara yang cara yang lebih baik agar kami bisa mendapatkan akses pinjaman modal yang lebih lunak, berbunga kecil dan memiliki toleransi,” ujar Aris, salahsatu pelaku usaha.(dji-1)

Foto: Google

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*