Cara Desa Belajar Cepat Hasil Maksimal: Studi Banding

2
1234

Berdesa.com – Ada beragam anggapan mengalamat pada kegiatan satu ini: studi banding. Sebagian menilai, misi kegiatan ini telah dipelintir sedemikian rupa sehingga hanya menjadi kedok saja untuk bersenang-senang menggunakan anggaran organisasi, institusi atau duit pemerintah. Tapi simpan dulu pikiran buruk itu karena studi banding sesungguhnya adalah kegiatan yang memiliki banyak manfaat dan bisa menciptakan lompatan besar. Termausk studi banding antar-desa. Apa saja yang bisa dihasilkan dari studi banding desa?

Secara harafiah studi banding adalah konsep belajar yang dilakukan di lokasi dan lingkungan yang berbeda dengan maksud meningkatkan mutu, perluasan usaha, perbaikan sistem, penentuan kebijakan baru, perbaikan peraturan perundangan dan lain-lain. Dilakukan oleh kelompok kepentingan tertentu, pada intinya studi banding adalah membandingkan kondisi obyek studi di tempat lain dengan tempat sendiri, mengumpulkan data dan beragam informasi untuk dijadikan acuan merumuskan konsep yang kita inginkan.

Pernah mendengar ujaran ‘tak kenal maka tak sayang’? Nah, umumnya kehidupan pedesaan di Indonesia memiliki berbagai keterbatasan terutama akses informasi. Sebagian besar warga desa tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai perkembangan di luar desanya karena rutinitas mereka sehari-hari atau karena sulitnya mengakses informasi seperti itu dari luar desanya. Akibatnya, desa-desa itu kesulitan menciptakan lompatan kemajuan karena tidak memiliki referensi atau acuan yang mendorong mereka.

Baca Juga  INFO PELATIHAN

Padahal, untuk mencapai sebuah kemajuan butuh pandangan-pandangan baru, informasi baru dan kalau bisa sebuah contoh yang bisa mereka lihat langsung dengan mata kepala. Bukan rahasia lagi, sebagian besar warga desa baru akan percaya pada sesuatu yang baru jika mereka melihatnya langsung dengan mata kepala. Nah, makanya studi banding dengan datang ke desa lain yang lebih maju dalam hal-hal tertentu menjadi sangat penting bagi para perangkat desa.

Data yang dikumpulkan Berdesa.com mengungkap, banyak desa yang melakukan studi banding ke desa lain yang lebih maju bisa dengan cepat menciptakan langkah kemajuan bagi desanya. Melihat apa yang dilakukan desa lain membuat rombongan peserta studi banding segera mendapatkan semangat dan inspirasi bahwa mereka juga bisa melakukan lompatan yang sama seperti yang mereka lihat di desa tempat studi bandingnya.

Seperti diungkapkan Agustinus Suanto, Kepala Desa Desa Jati, Kecamatan Sawangan, Magelang yang baru-baru ini mengadakan studi banding bersama Usdes. Rombongan perangkat desa ini berkunjung ke Desa Dlingo didampingi Departemen Pelatihan dan Studi Banding Usaha Desa Sejahtera (Usdes).  Rombongan ini mengunjungi Desa Dlingo, Bantul, Yogyakarta untuk studi banding mengenai kegiatan PKK, Posyandu dan administrasi desa. “Kami melihat langsung bagaimana kegiatan PKK dan Posyandu di desa ini. Hal itu langsung memberikan gambaran yang jelas apa yang harus kami lakukan untuk mengembangkan PKK dan Posyandu di desa kami,” katanya.

Baca Juga  Pelatihan BUMDes Academy 18 - 23-25 Januari 2018 Yogyakarta

Pengalaman melihat aktivitas di desa lain memberikan efek psikologi yang sangat positif bagi peserta studi banding karena ketika melihat desa lain bisa melakukan hal yang jauh lebih maju mereka menjadi yakin mereka juga mampu melakukannya. Keyakinan itu langsung muncul karena tidak ada hambatan emosional. Suasana emosional ini berbeda dengan situasi ketika mereka hanya berkutat di lingkungan desa mereka atau desa tetangga saja. “ Faktor belum kenal sebelumnya dengan orang-orang di desa yang kita kunjungi membuat peserta studi banding bisa menyerap dengan baik beragam informasi untuk dipraktikkan di desa sendiri,” katanya.

Hal yang sama terjadi dengan rombongan dari Desa Gununglangit, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara yang mengunjungi Desa Wisata Muntuk, Dlingo, Bantul, Desember lalu. Rombongan Gunungklangit mengunjungi obyek wisata Puncak Becici yakni wisata hutan pinus yang pernah dikunjungi Barrack Obama dan keluarganya tahun lalu. Hasilnya?

“Kami langsung punya gambaran bagaimana mengembangkan desa kami menjadi desa wisata seperti Desa Muntuk. Soalnya kami juga punya kondisi alam yang sangat elok untuk dikembangkan menjadi desa wisata,” ujar Murniwati, salahsatu anggota rombongan Desa Gununglangit.

Bagian Pelatihan dan Studi Banding PT Usaha Desa Sejahtera yang selama ini sering mendampingi desa-desa dari berbagai penjuru Indonesia melakukan studi banding di wilayah Yogyakarta dan Jawa tengah mencatat, selama ini desa-desa yang melakukan studi banding mampu menciptakan lompatan bagi desanya hanya beberapa minggu atau bulan setelah studi banding.

Baca Juga  Pelatihan BUMDes Academy 16 : Asyiknya Mengunjungi 6 BUMDes Hebat Sekaligus

“Kami selalu memantau perkembangan desa-desa yang melakukan studi banding melalui lembaga kami dan hasilnya studi banding yang mereka lakukan memberi banyak sekali pandangan baru, informasi dan keberanian bagi desa-desa itu untuk mulai menciptakan langkahnya,” ujar Dairatul Chasanah, salahsatu punggawa Usaha Desa Sejahtera. Dari pantauan yang dilakukan Usdes, seringkali desa-desa yang berhasil menciptakan kemajuan itu lalu kembali melakukan studi banding untuk tema-tema yang berbeda dengan desa tujuan yang juga berbeda.

Dairatul menambahkan, selama ini lembaganya telah mendampingi puluhan desa untuk studi banding dengan tema yang berbeda. “ Mereka kami antarkan ke desa-desa sesuai dengan kebutuhan studi mereka seperti pengembangan obyek wisata desa, pengembangan UMKM, sistem administrasi dan sebagainya,” kata Dairatul. Secara rutin lembaga ini kemudian memonitor dan terus memberi informasi bagi desa-desa itu untuk memulai langkahnya sendiri di desanya. “ Faktanya, desa-desa peyang melakukan studi banding bisa sangat cepat menyerap dan lalu mengembangkan apa yang mereka lihat dan mereka catat di desanya sendiri,” ujarnya. Jadi, sudah jelas, studi banding memang memiliki manfaat yang banyak, bukan ? (adji/berdesa)

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here