BUMDesa Mengolah Sampah, Belajar dari Swedia

BUMDesa Mengolah Sampah, Belajar dari Swedia

BERDESA.COM – Bank sampah memang bukan isu baru dan sama sekali bukan hal baru, tetapi sampah adalah persoalan yang tiap hari datang dan datang lagi. Sebagai salahsatu kandidat unit usaha yang dilirik BUMDesa di banyak tempat, ada baiknya desa-desa belajar dari negeri Swedia. Kenapa?

Terbalik dengan umumnya situasi di lingkungan kita, Swedia adalah negara yang justru kekurangan sampah? Ya, negeri ini dikenal sangat maju dalam hal mengolah sampah. Seluruh sampah di negeri itu bahkan ludes diolah kecanggihan teknologi mereka. Sampah diubah menjadi energi untuk mencukupi jutaan rumah tangga di negeri di Eropa ini. Akibatnya, mereka kekurangan sampah untuk diolah dan harus impor dari negara lain. Setidaknya setiap tahun mereka mengimpor 800 ribu ton sampah!

Begitu tinggi kesadaran warga Swedia soal sampah sehingga seluruh sampah yang mereka hasilkan semuanya diolah menjadi sumber energi. Sisa yang tidak bisa diolah dimusnahkan sehingga tidak perlu meninggalkan polusi. Jadi, tak perlu dibayangkan seperti apa kebersihan lingkungan di seluruh penjuru negeri beribokota Stockolm itu.

BUMDesa sesungguhnya bisa menjadikan ini contoh. Sampah warga desa yang selama ini masih berceceran sembarang tempat adalah barang baku yang bisa menjadi penghasilan. Jika diolah dengan baik, BUMDesa bahkan bisa membeli sampah yang dihasilkan warganya. Daripada dibuang ke sungai dan mencemari kali atau teronggok di tempat penampungan mencemari tanah dan menimbulkan aroma yang ‘wow’ itu. Bukankah sebaiknya dipilah, dibersihkan dan diolah sehingga melahirkan rupa-rupa kegunaan.

Tentu saja pertama harus digalakkan pendidikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan rumah tangga dengan tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi tidak cukup disitu, masyarakat harus diajari cara memisahkan sampah organik, non organik dan jenis lainnya. Sampah plastik bisa didaur ulang dan dijadikan bijih plastik lagi. Jenis organik diolah untuk menjadi pupuk cair. Jadi, yang plastik bisa dijual, pupuk cair bisa menyuburkan tanah.

Bayangkan jika semua orang paham bahwa sampah bisa dirubah menjadi uang. Betapa banyak hal baik yang akan terjadi pada masyarakat kita, lingkungan menjadi bersih dan malah mendapat penghasilan dari menjual sampah. Jika digarap serius, BUMDesa bisa membangun bank sampah ini. Termasuk sampah seperti jelantah atau minyak goreng habis pakai. Bayangkan jika setiap rumah di satu desa mengumpulkan minyak jelantah mereka dan menyetorkanya untuk dibersihkan dan hasilnya bisa dipakai untuk beragam kegunaan, termasuk sabun.

Dibanding jenis usaha lainnya, ada dua keuntungan sekaligus yang bisa lahir dari usaha mengolah sampah. Pertama, keuntungan berupa benefit alias keuntungan tidak dalam bentuk uang. Jika gerakan kesadaran sudah kuat maka terciptalah lingkungan yang bersih di seluruh penjuru desa. Ini tidak hanya akan membuat mata sedap emandang ke seluruh sudut tempat tinggal melainkan juga bakal menekan ancaman berbagai penyakit. Sampah hilang beragam penyakit juga lenyap, kesehatan masyarakat meningkat. Bukankah biaya menjaga kesehatan sangat besar, apa yang lebih penting selain memiliki tubuh yang sehat?

Kedua keuntungan material alias pendapatan dalam bentuk uang. Bank sampah akan menghasilkan uang dan bisa dikembalikan pada para pemilik sampah yang menyetorkannya. Bayangkan saja jika Anda bisa mendapatkan penghasilan justru dari sampah yang Anda punya. Ketiga, menciptakan lapangan kerja bagi warga desa dari mulai petugas yang mengambil sampah dari rumah ke rumah, petugas administrasi hingga para pengolah sampah di tempat sampah di olah. Bukankah berderet keuntungan sudah menanti? Jadi BUMDesa menunggu apa lagi? (ary adji/berdesa)

Foto: www.hipwee.com

1 Komentar

  1. di desa kami tempat pembuangan sampah,tolang dibantu bagaimna cara bisa menghasilkan uang untuk desa

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*