BUMDesa Bikin Simpan-Pinjam, Kenapa Tidak?

0
6846

Berdesa.com – Dari berbagai jenis usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Simpan Pinjam adalah salahsatu  pilihannya. Tetapi banyak desa yang ‘tidak terlalu tertarik’ mendirikan usaha simpan-pinjam ini. Alasan utamanya karena lembaga keuangan seperti ini sudah banyak didirikan mulai dari kelompok Dasawisma, PKK, Koperasi dan kelompok organisasi lain. Belum lagi banyaknya bank perkreditan yang menggurita di desa-desa.

Alasan lainnya, karena ada banyak kasus lembaga simpan-pinjam ‘kukut’ alias gulung tikar gara-gara banyak peminjam yang tidak mengembalikan hutangnya. Sehingga banyak perangkat desa yang kawatir jika membuat simpan-pinjam, uangnya bakal raib seperti nasib buruk lembaga simpan-pinjam lainnya. Tetapi ada alasan satu lagi:yakni karena simpan-pinjam sudah umum dibuat sehingga tidak akan menciptakan kesan inovatif kalau danadesa atau BUMDes membuka lembaga keuangan serupa.

Padahal sesungguhnya, lembaga keuangan simpan-pinjam adalah salahsatu jenis usaha yang justru paling mampu menciptakan multi efek bagi ekonomi desa. Sebagai lembaga yang mampu mendukung sistem permodalan para pelaku ekonomi desa, perbankan desa bisa mendukung segala jenis usaha masyarakat. Di desa manapun, di wilayah manapum, permodalan adalah salahsatu mesin penggerak perekonomian.

Baca Juga  Sedu Sedan Kewenangan Desa

Perbankan desa sudah pasti memiliki peran yang sangat fundamental dalam memacu produktivitas ekonomi warga desa. Begitu pentingnya peran permodalan bagi para pelaku usaha di desa sehingga banyak bank swasta yang berlomba menggapai konsumen desa. Akibatnya, banyak pelaku usaha yang terpaksa meminjam uang di bank swasta karena ketiadaan Perbankan milik desa yang mau dan mampu menjawab kebutuhan modal mereka. Jika banyak warga desa meminjam uang ke bank swasta dan membayar dengan lancar pinjaman mereka, kenapa kawatir lembaga simpan pinjam macet?

Sesungguhnya kehadiran Perbankan desa memiliki kekuatan besar. Pertama secara profit, Perbankan adalah bisnis yang tak akan pernah mati. Jadi, sebagai sebuah usaha, simpan pinjam adalah bisnis yang sangat menguntungkan. Kedua, jika warga desa memiliki lembaga keuangan sendiri seperti simpan pinjam, maka warga desa bakal lepas dari cengkeraman praktik bank swasta yang mencekik leher, terutama kejahatan para renternir yang telah merusak ekonomi warga desa selama ini.

Mengenai banyaknya fakta sistem perbankan desa gulung tikar karena banyak peminjam tidak mengembalikan pinjamannya, jangan lantas menyalahkan para peminjam. Sangat mungkin sebenarnya persoalannya lebih pada masalah manajemen. Sebaliknya, justru sebenarnya bank milik desa bakal bisa membantu warga yang kesulitan mengangsur pinjamannya. Caranya?

Baca Juga  Dasar Hukum Pendirian BUM Desa

Berbeda dengan bak swasta yang hanya mementingkan keuntungan untuk perusahaan perbankan mereka, bank desa bis amenjalankan fungsi pendampingan jika ada warga kesulitan keuangan dalam usahanya. Bank desa bisa memfungsikan diri sebagai lembaga konsultan bisnis yang mampu memberikan tawaran solusi bisnis pada pengguna jasa pinjamannya. Misalnya menghubungkan di pelaku bisnis yang sedang kesulitan dengan pihak-pihak yang bisa membantu atau bekerjasama sehingga masalah si pelaku bisnis itu menjadi stabil kembali.

Bank desa juga jelas lebih manusiawi dalam urusan bunga dan resiko bagi peminjam. Bukan rahasia lagi ada banyak bank swasta yang memperlakukan krediturnya dengan tidak manusiawi hanya karena tidak mampu membayar angsuran. Tak sedikit bahkan warga desa harus kehilangan tanah, rumah dan berbagai barang berharga. Kondisi inilah yang justru menjadi alasan kehadiran bank milik desa. Soalnya, bak milik desa bisa mengantisipasi resiko yang memiriskan hati itu. Bank desa bisa menjadi bank yang ramah, manusiawi dan meringankan beban warga desa. Soalnya, bank desa adalah milik warga yang keuntungannya juga bakal digunakan untuk kesejahteraan desa.  Jadi, kenapa tidak Bumdes mendirikan unit usaha simpan-pinjam? (dji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here