BUMDes Tak Harus Mesin Uang, Mari Belajar dari Amarta

BUMDes Tak Harus Mesin Uang, Mari Belajar dari Amarta

Berdesa.com – Banyaknya pemberitaan mengenai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang membukukan Miliaran rupiah setahun membuat banyak desa ciut nyali memikirkan nasib BUMDes-nya. Mereka kawatir jika patokan keberhasilan sebuah BUMDes selalu diukur dari perolehan laba, mereka akhirnya hanya akan dicibir warga desanya sendiri karena tidak sehebat BUMDes-BUMDes jawara itu. Lalu bagaimana para pengurus BUMDes menyiasati fenomena ini. Benarkah hanya BUMDes yang menghasilkan uang banyak saja yang layak disebut BUMDes hebat?

Menjawab pertanyaan ini Direktru BUMDes Amarta Desa Pandowoharjo, Sleman, Yogyakarta Agus Setyanta menyatakan sangat menyayangkan pandangan seperti itu. Soalnya, di Indonesia ini sebagian besar desanya masih bingung merumuskan potensinya sendiri. Apalagi mengolahnya menjadi sumber pendapatan melalui BUMDes.

Kedua, kata Agus, ukuran keberhasilan melalui profit yang dihasilkan sebuah unit usaha sangat tidak komprehensif karena meniadakan sisi keuntungan sosial sebagai substansi dari lembaga BUMDes sendiri. “ BUMDes kan lahir sebagai lembaga penyangga ekonomi desa. Jadi, seharusnya ukurannya bukan hanya berapa rupiah yang dihasilkan dalam setahun. Misalnya ada BUMDes mendirikan supermarket di daerah kota dan tidak memberikan manfaat sosial yang terukur bagi warga desanya sendiri, apakah itu BUMDes yang hebat?” tukas Agus.

Seperti yang dilakukan BUMDes Amarta, sejak awal berdiri Amarta tidak menempatkan keuntungan profit sebagai patokan. Amarta justru menetapkan keuntungan sosial sebagai target pertama sekaligus pendekatan membangun Amarta. “ Amarta meletakkan pentingnya membangun kepercayaan warga desa sebagai agenda yang utama dan pertama. Makanya kami memilih membangun usaha pengolahan sampah. Mungkin unit usaha seperti ini tidak cukup populer untuk menjadi usaha yang hebat, tapi dengan sistem manajemen yang baik, akan ada banyak manfaat yang bisa dihasilkan usaha pengolahan sampah,” kata Agus.

Agus memapar, dalam tiga bulan saja Unit pengolahan sampah BUMDes Amarta sudah mencetak laba dan mampu membayar para pekerjanya setara UMR. Beberapa bulan kemudian lahir pengolahan pupuk organik yang terjual dengan baik dan menambah pendapatan manajemen dan pekerja. Hebatnya, tak sampai satu tahun, BUMDes Amarta telah dianggap usaha yang diakui kesehatannya oleh bank sehingga bisa menjadi penjamin bagi seluruh karyawannya. Sehingga, kini para pekerja pengolah sampah di BUMDes Amarta bisa mendapatkan akses pinjaman modal dari bank dengan Amarta sebagai penjaminnya.

Agus Setyanta membuktikan, awalnya BUMDes Amarta membuktikan bisa menciptakan kebersihan dan lingkungan desa yang sehat dengan mengolah sampah milik warga. Kedua, membuka lapangan kerja dan menciptakan sistem penghasilan yang tak kalah dengan pekerjaan profesional lainnya di luar BUMDes. Ketiga, BUMDes bankable dan mendapat banyak tawaran modal dari berbagai pihak. Keempat, melahirkan berbagai unit usaha seperti toko yang sebagian besar produknya asli lokal desa, pabrik pupuk organik dan sekarang mengembangkan produk tanaman organik. Hasilnya?

BUMDes Amarta adalah salahsatu BUMDes di Jogja yang menjadi rujukan bagi ribuan BUMDes lainnya untuk belajar membangun manajemen usaha BUMDes yang sehat, inovatif dan selalu terbuka pada prospek baru. Selain sibuk di kantor BUMDes, Agus juga sering diundang ke berbagai belahan Indonesia menjadi pembicara berbagai pelatihan BUMDes mulai Aceh hingga Indonesia timur. “ Saya kira kuncinya adalah membangun manajemen profesional dengan pendekatan manfaat sosial sebagai basisnya. Jadi, dalam kontek ini, warga desa harus percaya BUMDes ada dan terbukti melakukan sesuatu untuk mereka, bukan hanya dalam bentuk angka rupiah saja. Karena keuntungan sosial itu kalau dinominalkan bakal sangat besar nilainya,” kata Agus.(aryadji/berdesa)

1 Komentar

  1. Saya pernah mencoba berkomunikasi dengan para pemangku kebijakan di atas,tentang menciptakan BUMDES bersama,karena sbg pelaku pembangunan desa saya berkesimpulan alangkah lebih ideal ketika Bumdes bersama menjadi mitra penyedia barang dan jasa dlm pelaksanaan pembangunan fisik di masing”desa.contoh nyata ketika satu desa merencanakan pembangunan infrastruktur jalan setapak/rabat beton sepanjang 4000mx1m,berapa kebutuhan material semen untuk pembangunan itu?belum jika Bumdes berperan sbg broker dlm penyediaan material/alat rumah tangga di masing”desa?jadi prinsifnya….”Kalau ada kemauan pasti ada jalan…..itu kembali kepada sumber daya manusia di desa masing”…..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*