BUMDes Menyentuh Perekonomian Rakyat Lapisan Paling Bawah

0
867
BUMDes Menyentuh Perekonomian Rakyat Lapisan Paling Bawah

BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) nyatanya memang mampu membangun perekonomian di desa. Sudah ada beberapa desa yang layak untuk dijadikan percontohan. Hanya saja, jumlah desa di Indonesia sangat banyak sehingga prosentase desa yang ikut mengembangkan perekonomian desa melalui BUMDes relatif sangat sedikit.

Tentu ada alasan. Kurangnya kualitas sumber daya manusia serta kekurangan ide kreasi di setiap masyarakat desa membuat BUMDes hanya bisa ditemukan di beberapa wilayah saja.

Salah satu tujuan BUMDes adalah untuk meningkatkan kesejahteraan asli desa. Berangkat dari tujuan ini, sebenarnya tidak ada patokan bagaimana cara agar desa bisa lebih sejahtera. Semua harus kembali pada apa yang dimiliki desa dan bagaimana mengembangkan potensi tersebut.

Beberapa desa sudah memulai. Dan berikut ini beberapa desa yang bisa dijadikan contoh.

BUMDes Barbar

Barbar merupakan salah satu desa di Kecamatan Oba Utara, Kota Tidore. Siapa sangka BUMDes di desan ini mampu meraup 20 juta per bulan. Pasti tidak ada yang menyangka. Apalagi kebanyakan kaum ibu di sana adalah pengangguran.

Baca Juga  Membangun Demokrasi Desa

Keuntungan tersebut didapatkan dari proses pengelolaan sampah menjadi biji plastik. Hal ini disebabkan di sana banyak sekali sampah yang sama sekali tidak dikelola. Ternyata, sampah tersebut bisa menghasilkan uang.

Ini berasal dari kesepakatan warga untuk membangun BUMDes. Dengan suntikan modal Rp 290 juta, BUMDes Berkah dibangun dan fokus untuk mengelola sampah. Hasilnya sudah bisa dirasakan sekarang ini.

BUMDes Batudulang

Berbeda dengan di Barbar, Batudulang mempunyai potensi wisata. Terdapat air terjun yang selama ini tidak dikelola. Setelah adanya BUMDes Batudulang, desa tidak lagi sepi. Banyak wisatawan yang datang untuk berwisata di air terjun ini.

Tidak hanya berhenti di sana saja. Akan ada lagi spot wisata yang dibangun. Di satu desa kecil ini, ada berbagai spot wisata. Diprediksi omset desa melalui tempat wisata ini mencapai Rp 5 juta per tahun. Memang tidak besar. Akan tetapi, dampak ekonominya sangat luas. Banyak warga yang bisa membuka tempat makan, menyediakan layanan tertentu, dan lain sebagainya sehingga perkembangan ekonomi desa bisa langsung dirasakan.

Baca Juga  BUMDes Tak Harus Mesin Uang, Mari Belajar dari Amarta

BUMDes Jabar

Jabar merupakan daerah di mana sudah banyak sekali desa yang memiliki BUMDes. Dan ada satu prestasi yang sangat membanggakan. Gabungan BUMDes Jabar ternyata menjadi pemasok beras untuk ASIAN GAMES yang dihelat beberapa waktu lalu.

Sebanyak 60 ton beras untuk ASIAN GAMES ternyata dipasok oleh desa. Jelas sekali ini sangat berpengaruh pada pertumbuhan desa secara langsung, bukan? Diharapkan hal ini bisa membuat petani di Jabar semakin bersemangat untuk menanam padi dan selalu menjaga kualitas padi yang mereka tanam.

Bukan tidak mungkin juga gabungan BUMDes lainnya bersinergi jika mempunyai potensi yang sama. Sama seperti yang dilakukan di Jabar.

Pada intinya, setiap desa punya potensi. Hanya saja, selama ini potensi tersebut tidak dikelola secara maksimal sehingga desa memiliki konotasi daerah yang tertinggal dan tidak maju.

Dengan adanya BUMDes di setiap desa, diharapkan tidak ada kesenjangan yang begitu curam antara desa dan kota. Lebih dari itu, ini bisa menjadi solusi masalah sosial dan ekonomi yang ada di kota. Pasalnya, tidak ada lagi gelombang orang desa yang mencari pekerjaan di kota. Mereka tidak perlu ke kota untuk mencari uang. Di desa, mereka sudah berdaya. Dan inilah yang menjadi tujuan BUMDes.

Baca Juga  Ramainya Rejeki BUMDes dengan Mendirikan Pasar Desa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here