BUMDes Harus Utamakan Kebutuhan Pasar Dulu, Begini Maksudnya

0
4380

BERDESA.COM – Salahsatu yang membuat Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) lambat berkembang adalah, karena bingung merumuskan jenis usaha yang mau dijalankannya. Soalnya, hanya berpijak pada potensi tetapi tidak tahu kemana memasarkannya, itu cerita lama dan tidak bakal menghasilkan apa-apa selain produk yang menumpuk tak terjual dan berakhir dengan putus asa. Jadi, bagaimana merumuskan jenis usaha yang layak dikembangkan BUMDes?

Seperti yang diungkapkan para petinggi Desa Mojo, Kecamatan Andong, Boyolali, Jawa Tengah, ketika berkunjung ke Kantor Usaha Desa Sejahtera (Usdes), beberapa hari lalu. Kepala Desa, Ketua BPD dan pengurus BUMDes bertemu dengan Usdes untuk berkonsultasi mengenai jenis usaha yang akan didirikan desa ini untuk BUMDes-nya.

Kepala Desa Mojo Mulyadi mengungkapkan, salahsatu rencana yang saat ini sedang digodok pemerintah desa dan tim-nya adalah mendirikan usaha retail di pinggir jalan besar yang melewati desa ini. “ Kami beruntung memiliki tanah kas di pinggir jalan besar dengan luas muka hampir 100 meter. Itu area yang ingin kami kembangkan sebagai pusat usaha untuk BUMDes,” kata Mulyadi di Kantor Usdes di Yogyakarta.

Baca Juga  Unik dan Modern, Cara Pendowoharjo Mengembangkan BUMDesa

Menanggapi hal itu Managing Director Mohammad Najib menyatakan, yang terpenting adalah desa harus lebih dahulu melakukan kajian mengenai beberapa hal. Pertama, mengenai keuntungan apa yang akan didapatkan warga desa dengan hadirnya unit usaha BUMDes itu. “ Keuntungan bagi warga desa tidak harus selalu dalam bentuk profit atau uang. Soalnya, tidak realistis pula membayangkan BUMDes bisa mencetak laba rupiah besar dalam waktu yang singkat,” katanya.

Keuntungan yang tak kalah mensejahterakan adalah keuntungan sosial (social benefit) yakni manfaat yang bisa dirasakan warga desa dengan kehadiran unit usaha yang dijalankan BUMDes. Meski tidak memperlihatkan angka rupiah yang besar tapi keuntungan sosial seperti ini biasanya justru memiliki kemampuan mendorong peningkatan ekonomi yang signifikan. Misalnya, BUMDes yang memilih mendirikan usaha Bank Sampah.

Meski tidak menghasilkan rupiah cukup banyak, tetapi bank sampah menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi warga desa. Warga menjadi sehat dan lingkungan desa menjadi indah karen tidak ada sampah berserakan di sudut-sudut kampung di desa. Warga yang sehat akan jauh lebih produktif dalam bekerja.

Baca Juga  Peran Pemkab dalam Pendirian Pasar Desa

Atau menciptakan usaha retail yang bisa menjadi pusat kulakan warung-warung tradisional di desa dengan harga yang lebih murah dibandin toko kulakan lainnya. “ Yang terpenting adalah BUMDes harus survey pasar dulu. Apakah produk atau jasa yang dimiliki desa memang sudah sesuai kebutuhan pasar? Soalnya, kelemahan BUMDes selama ini adalah tidak melihat kebutuan pasar dulu. Sekarang ini kita harus melihat pasar dulu dan potensi desa akan menyesuaikan dengan kebutuhan pasar itu,” kata Najib.

BUMDes harus mendorong agar uang di desa jangan keluar dari desa. Dengan begitu duit warga desa tidak akan keluar kemana-mana Setelah itu memikirkan, bagaimana desa bisa membuat uang dari luar desanya bisa masuk ke desa.

Pertemuan hangat itu menyepakati, kedua belah pihak akan menjalin kerjasama ke depan dalam membangun usaha BUMDes yang mensejahterakan warga. Usdes memang memiliki berbagai program mendukung pengembangan BUMDes di seluruh Indonesia mulai dari pelatihan, pendampingan hingga Program Inkubasi BUMDes untuk menciptakan BUMDes yang memiliki kemampuan membangun usaha secara professional namun tidak meninggalkan tugasnya mensejahterakan warga.(adji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here