Bisnis Retail Terserang Badai, Karena Peningkatan Transaksi Online?

0
356

Berdesa.com – Badai sedang melanda usaha retail dunia. Dalam waktu singkat berbagai gerai retail tutup karena tak kuat menjalankan bisnisnya seperti 7-Eleven, dua gerai Matahari Department Store, Ramayana, Lotus Department Store, hingga rencana penutupan gerai Debenhams.Tak hanya Indonesia, hal serupa juga sedang melanda berbagai industry retail dunia. Benarkah ini terjadi karena maraknya jual-beli online?

Masih simpang-siur analisa mengenai hal ini tetapi maraknya bisnis online disebut-sebut sebagai salahsatu penyebab utamanya. Jaringan retail terbesar di Amerika Serikat Wal-Mart juga telah menutup Walmart Express di 269 lokasi di Amerika. Ini karena biaya operasional yang terlalu tinggi namun tidak sesuai dengan pendapatan.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Trikasih Lembong mengatakan, saat ini memang industri ritel di dunia sedang jungkir balik atau mengalami running upside down.“Seperti di Eropa, AS dan seluruh dunia ritel sedang amburadul dan sedang mengalami proses pergeseran,” kata Thomas dalam paparan realisasi investasi di kantor BKPM, Jakarta, kepada sejumlah wartawan Senin (30/10/2017).

Baca Juga  Banyak Gerai Retail Tutup, UMKM Harus Masuk ke Online

Di tingkat Internasional, mengutip Reuters, banyaknya toko ritel yang tutup di Indonesia dikarenakan saat ini konsumen sedang mengalami pergeseran belanja dari offline menuju online. Padahal sebenarnya, di Indonesia perkembangan belanja online masih terbilang kecil dibanding transaksi secara langsung. “ Tetapi meski kecil, dampak pergeseran belanja online saat ini memang sangat terasa pengaruhnya dan efeknya itu berlipat-lipat,” katanya.

Fakta kuatnya pengaruh transaksi online bisa dilihat dari pesatnya perkembangan Grab, Uber, Gojek. Soalnya, jasa transportasi online itu juga menyediakan layanan belanja online sehingga sehingga orang-orang sekarang ini lebih memilih menggunakan jasa mereka untuk berbelanja. Sekarang ini, orang sudah malas bepergian jauh hanya untuk sekedar membeli sesuatu karena menghabiskan waktu, biaya, tenaga dan lain-lain. Mereka lebih memilih menggunakan jasa online sehingga tinggal duduk di rumah barang datang. Perubahan ke arah belanja online ini diyakini Thomas memiliki dampak yang sangat besar.

Penyebab lainnya adalah, masyarakat juga sudah mengalami pergeseran pola konsumsi. Kini, masyarakat tidak lagi gampang terbius promosi untuk membeli produk. Sebagian masyarakat sekarang ini bahkan lebih memilih mencari pengalaman dan kesenangan baru dengan cara liburan, rekreasi dan mendatangi berbagai tempat yang menyenangkan. Sekarang ini, memotret diri di tempat yang indah dan menunjukkan suasana bersenang-senang melalui foto sudah menjadi kebutuhan semua orang. Ini salahsatu yang mengurangi minat belanja masyarakat.

Baca Juga  Soal Pengawasan Dana Desa, Dua Kubu Apdesi Beda Pandangan

Bukan hanya retail saja yang mulai loyo, kelesuan pasar ini sangat terasa di pusat perbelanjaan seperti ITS Roxy Mas yang merupakan pusatnya elektornik di Jakarta. Pusatnya eletronik ini kini juga jauh lebih sepi pembeli dibanding beberapa tahun lalu. Sebagian pedagang yakin perkembangan transaksi online menjadi faktor utama yang menyebabkan ini. Soalnya, barang elektronik sekarang ini menjadi salahsatu produk yang banyak disediakan di toko online. (aryadji/berdesa)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here