Berterimakasihlah Pada Kaum Perempuan, 60 Persen UKM Indonesia Dijalankan Mereka

Program-Kerang-Hijau-Serang

BERDESA.COM – Tahukah Anda, nafas negeri ini bisa dikatakan berhembus karena keberadaan Usaha Kecil Menengah (UKM). Bagaimana tidak, ada 52 juta UKM dari Sabang hingga Merauke dan menyerap lebih dari 90 persen tenaga kerja di seantero nusantara. Jangan salah pula, dari total jumlah itu 60 persen di antaranya di jalankan pelaku UKM: perempuan! Maka sebenarnya kaum perempuanlah yang menopang sebagian nyawa warga negara ini.

Para perempuan pejuang ini umumnya menekuni usahanya sembari menjalankan fungsinya sebagai ibu rumah tangga yang harus mengurus anak, suami dan rumahnya. Di sela-sela waktunya yang padar itulah mereka berusaha membantu suami mereka mendapatkan income untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hebatnya, fakta yang dihimpun Berdesa.com menyebutkan para perempuan pelaku UKM jauh lebih tertib dalam hal manajemen keuangan, utamanya mengembalikan pinjaman pada lembaga yang meminjami modal untuk usaha mereka.

Tak berlebihan kiranya, perempuan memang memiliki kemampuan khusus dibanding kaum pria yakni bisa menjalankan beberapa pekerjaan atau kegiatan yang berbeda satu sama lain dengan cara yang unik. Bayangkan, sejak pagi mereka harus menyiapkan makanan, memandikan anak, mengurus anaknya ke sekolah sekaligus menjemput, bertanggungjawab menyiapkan makanan lagi dan di sela semua itu masih pula menjalankan kegiatan menghasilkan uang. Apakah kaum laki-laki mampu melakukan semua daftar pekerjaan itu dalam 24 jam? Maka bangsa ini, terutama kaum pria,  sudah jelas harus berterima kasih pada kaum perempuan atas peran multi fungsi yang mereka jalankan.

UKM perempuan umumnya bekerja pada beberapa bidang khas yakni makanan, fashion dan kerajinan. Di satu sisi tiga bidang ini memang sangat identik dengan keseharian mereka. Menjalankan industri di bidang kuliner membuat para ibu bukan hanya menghasilkan uang melainkan juga bisa mendapatkan ‘bonus’ makanan gratis dari apa yang diolahnya. Bagi perempuan, urusan seperti ini tidak bisa dianggap remeh.

Meski bergerak pada wilayah industri rumahan dengan pola yang sebagian besar masih konvensiona tetapi para perempuan ini membuktikan pusaran uang dari jual beli makanan yang mereka ciptakan bukan main-main angkanya. Padahal sebagian besar masih bergerak pada sektor yang terbatas karena banyaknya kegiatan domestik yang musti mereka jalankan. Seperti yang dilakukan para ibu di daerah Turi, Sleman, Yogyakarta. Di pusat Salak Pondoh ini para ibu-lah yang menciptakan aneka rupa makanan turunan salak mulai dari asinan, geplak salak, jenang salak hingga kopi salak. Kini, makanan olahan turunan salak ini sudah menyebar ke psar yang jauh lebih luas bahkan online. Tangan pada ibu-lah yang menciptakannya.

Industri fashion, jalan ditanya. Di sekujur wilayah negeri ini ribuan kelompok industri rumahan dijalankan para perempuan. Mereka ada yang bekerja di balik mesin jahit yang kemudian menjadi sentra bordir dan pakaian muslim di Tasikmalaya. Di Wedi, Klaten para perempuan aktif mengerjakan pekerjaan menjahit dan sablon yang membuat desa mereka kemudian dikenal sebagai sentra industri pakaian.

Industri kerajinan apalagi. Unsur artistik sebagai salahsatu ciri kuat dalam produk kerajinan sangat tidak bisa dipisahkan dari kaum hawa. Melalui sentuhan lembut tangan perempuan-lah beragam produk kreatif lahir dan berkembang menjadi usaha yang tak hanya menguntungkan tetapi terus mengembang. Seperti yang dijalankan Widanti, pemilik workshop beragam produk kerajinan dengan bahan dasat kayu.

Kepada Berdesa.com Danti mengatakan, awalnya dirinya hanya mencoba memanfaatkan limbah kayu jati dari para tukang kayu yang ada di desanya di Panggungharjo, Sewon, Bantul. Melalui beberapa tangan tukang kayu, di sulapnya potongan-potongan kau itu menjadi puzzle mainan kayu. “ Sekarang ini kami malah kewalahan menerima pesanan jadi konsumen kadang harus mengantri karena keterbatasan SDM di workshop,” katanya. Kenapa tidak menambah orang atau membeli kelengkapan mesin yang bisa meningkatkan kinerja lahirnya produk?

Itu karena Widanti ingin, peluang usaha di bidang industri kreatif ini dikembangkan sehingga tercipta peluang kerja pada sebanyak mungkin orang. “ Kami malah pingin bisa kerjasama dengan para pengrajin kayu untuk bisa membuat produk seperti yang kami buat dan kami membantu pemasarannya,” kata Widanti. Begitulah peran para Srikandi Indonesia utamanya di daerah pedesaan. Mereka, terus berjuang melalui beragam keterbatasan dan membuktikan mereka bisa. (aryadji hs/berdesa.com)

Foto: www.idnnews.co.id

1 Komentar

  1. Tulisan yang menarik, Mas Aryadji. Peran serta perempuan dalam mendorong pembangunan UKM di Indonesia sangat besar dan signifikan. Inspiratif!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*