Beginilah Administrasi Keuangan Usaha BUMDesa

Beginilah Administrasi Keuangan Usaha BUMDesa

BERDESA.COM – Salahsatu tantangan bagi BUMDesa adalah transparansi terutama laporan keuangan sekaligus. Bahkan tak hanya transaparan, BUMDesa juga musti  menjalankan sistem manajemen keuangan modern. Terutama BUMDesa yang menjalankan diri sebagai Lembaga Keuangan Mikro (LKM).

Sejak awal soal transaparansi soal keuangan BUMDesa ini harus ditekankan. Pasalnya, BUMDesa wajib memberikan laporan terbuka soal keuangan kepada masyarakat melalui musyawarah desa secara berkala. Jadi, publik desa sebagai pemilik usaha yang dijalankan BUMDesa memiliki akses kontrol terhadap BUMDesa.

Kenapa sistem keuangan harus seketat itu? Karena diperlukan untuk mengetahui perkembangan usaha dari waktu ke waktu baik mengenai omset penjualan, rugi-laba maupun struktur permodalan. Dengan begitu, manajemen BUMDesa bisa melakukan antisipasi sejak dini ketika unit usahanya mengalami kemungkinan kebangkrutan misalnya. Masalah lainnya, untuk mengantisipasi pola perilaku kekuasaan yang selama ini kurang transparan dalam urusan perumusan program dan penggunaan dana.

Laporan yang baik juga akan memberikan suguhan data mengenai ketersediaan barang dan jasa yang ada setiap saat. Catatan itu sangat diperlukan sebagai bahan menyusun rencana strategis pengembangan usaha. Pada unit usaha dagang maka persediaannya adalah barang atau produk. Pada usaha industri berupa persediaan barang mentah, barang dalam proses dan barang jadi. Pada usaha simpan-pinjam maka bentuknya adalah uang. Fungsi terakhir, untuk mengetahui peruntukan dana BUMDesa dan evaluasi kinerja keuangan.

Setidaknya ada empat istilah akuntansi yang harus digunakan BUMDesa dalam laporannya yakni harta yang terdiri dari harta tetap, harta lancar dan harta tidak berwujud. Kedua, Hutang yakni kewajiban yang harus dibayarkan pada masa mendatang sesuai kesepakatan yang dibuat. Ketiga, pendapatan yakni harta/aktiva perusahaan sebagai hasil dari transaksi yang menguntungkan dan Biaya alias harta yang digunakan untuk menggerakkan aktivitas sehingga meraih pendapatan.

Seluruh proses keuangan itu dikelola dalam catatn-catatan transaksi sesuai sifatnya. Maka kwitansi yang ada harus bisa menjelaskan transaksi itu harus mengandung penjelasan sebagai pembayaran hutang, pembelian bahan baku, pembayaran sewa dan lain-lain. Bukan sekedar kwitansi dengan angka rupiah saja.

Kwitansi juga harus selalu menyebut pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi misalnya, BUMDesa mengeluarkan uang untuk membeli suatu produk dari perusahaan lain maka nama perusahaan lain harus disebutkan dengan jelas Dengan begitu jalur lalu-lintas uang bisa dilacak ketika terjadi persoalan di kemudian hari. Jangan lupa pula, setiap kwitansi harus mencatat tanggal pembayaran karena akan menjadi penanda urutan catatan dalam buku besar nanti.

Setelah bukti transaksi terkumpul, data itu lalu dimasukkan dalam buk kas harian atau arus kas harian. Ini akan membuat manajemen bisa melakuan kontrol harian terhadap arus keluar masuk uang. Prinsip dasar yang paling penting adalah jangan sampai arus uang keluar lebih besar daripada uang masuk karena itu namanya defisit dan dalam waktu cepat akan menyebabkan kebangkrutan.

Agar pencatatan keuangan BUMDesa lebih detail maka BUMDesa harus membuat beberapa rekening sehingga berbagai peruntukan keuangan bisa dikontrol melalui rekening yang berbeda Seluruh rangkaian ini mensyaratkan manajer keuangan BUMDesa harus belajar serius mengenai bagaimana mengelola keuangan secara modern. (Aryadji/berdesa/dari berbagai sumber)

Foto: www.lppm.itb.ac.id

alterntif text

1 Komentar

  1. Terima ksih Berita yang bagus sekali….memberikan pengetahuan baru
    Apakah bisa di-pos-kan lagi model buku-buku administrasi keuangan BUMDesa yang bergerak di bidang LKM?
    Terima Kasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*