Beberapa Cara Membangun Gerakan Cinta Produk Indonesia

Beberapa Cara Membangun Gerakan Cinta Produk Indonesia

BERDESA.COM – Salahsatu syarat mutlak membuat produk Indonesia menguasai kandangnya adalah jika rakyat negeri ini mencintai produk negerinya sendiri. Sayangnya, kesadaran itu belum juga terbangun meski aneka kampanye sudah membahana. Berikut ini beberapa hal yang harus dilakukan agar warga bangsa ini cinta dan bangga produknya sendiri.

Pertama, budayakan hidup kreatif dan inovatif, terutama bagi para pengusaha termasuk para pelaku UKM. Kreatif dan inovatif adalah modal cara paling jitu untuk bisa bersaing dengan produk asing yang saat ini mendominasi pasar di negeri ini. Di sisi lain, setiap orang selalu merindukan hal yang baru, inovasi baru, kreativitas baru. Maka sebenarnya masyarakat konsumen bakal mencintai produk Indonesia jika beragam kreativitas dan inovasi bermunculan.

Inovatif tidak berarti harus memunculkan ide baru melainkan cukup memoles hal-hal yang sudah ada dengan hal-hal baru seperti kualitas, fungsi dan harga. Di Jepang, seorang ibu rumah tangga bakal mendaftarkan hak cipta resep masakan racikannya agar tidak didahului orang lain. Jangan kaget kalau negeri itu selalu melahirkan banyak inovasi karena kuatnya budaya kreatif ini.

Pemerintah juga harus mendorong gerakan kreatif inovatif ini dengan kemudahan perijinan, pajak dan sebagainya. Demikian pula lembaga keuangan seperti bank yang sesungguhnya bisa berperan penting sebagai pendorong dari sisi permodalan. Bukan rahasia lagi, ada banyak orang kreatif dan inovatif di negeri ini yang memilih hengkang dari negeri tercinta dan hidup di negara lain karena lebih dihargai di sana. Sungguh disayangkan.

Gerakan cinta produk Indonesia adalah gerakan untuk membangun ekonomi nasional. Maka gerakan ini harus dilakukan secara besar-besaran dan luas. Iklan di televisi saja tentu tidak cukup membangun kesadaran, butuh langkah yang lebih mendalam karena gerakan mencintai Produk Indonesia adalah demi kesejahteraan bangsa kita sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari di Jepang, masyarakat lebih memilih produk negaranya bahkan jika produk itu lebih mahal dibanding produk serupa impor. Dalam saat yang sama para produsen terus melakukan inovasi agar produknya bisa bersaing dengan produk impor itu sehingga warga Jepang merasa dihargai kebutuhannya. Hasilnya, barang impor di Jepang keok berhadapan dengan produk-produk dalam negeri. Tak hanya barang, bahkan warga Jepang terus berupaya agar bahasanya menjadi bahasa internasional.

Warga Jepang sangat sadar, membeli produk sendiri bahkan meski lebih mahal dari produk asing sekalipun tetap akan menguntungkan warga negaranya. Sebaliknya, semurah apapun produk asing, yang bakal mendapat untung adalah orang asing. Pemikiran itu seharusnya juga tertancap dibenak setiap orang Indonesia sehingga selalu mengutamakan produk Indonesia.

Seorang dosen yang pernah bertugas di Perancis kepada Berdesa.com berkisah, suatu hari dia menawarkan rokok kepada seorang anak muda di Perancis dan tanpa diduga si pemuda bertanya,” Apakah rokok ini Anda beli dengan pajak yang berlaku. Jika iya saya akan meminta sebatang untuk saya,” kata si pemuda. Seperti Jepang, warga pemilik menara Eiffel itu juga tidak mau bicara dengan bahasa lain pada siapapun saking cintanya pada negara.

Di Jerman, bahkan anak-anak muda bangga memakai kaus bergambar logo perusahaan kereta api negara itu. Aneh bukan, bagaimana bisa logo perusahaan milik pemerintah menjadi ikon yang disukai anak-anak muda. Bahkan beragam logo perusahaan lainnya. Itu menunjukkan betapa cinta mereka pada segala hal tentang negerinya.

Kedua adalah tingkatkan kualitas pelayanan. Di Jepang, Jerman, Korea para produsen sangat menghargai loyalitas konsumen dengan cara selalu meningkatkan kualitas produk dan pelayanan terbaik. Contohnya kereta api super cepat Sinkansen Jepang. Ini adalah kereta api yang tingkat keterlambatan jadwalnya hampir o persen dalam setahun. Uniknya, meski hanya berhenti beberapa menit saja di stasiun, pasukan cleaning service mampu membersihkan seluruh kursi penumpangnya dengan cepat dan efisien. Pelayanan adalah paling utama di Jepang sehingga warganya sangat percaya pada perusahaan-perusahaan penyedia jasa maupun produk di negerinya sendiri.

Memang butuh waktu untuk menciptakan budaya cinta produk dalam negeri ini dan semua pihak harus terlibat secara aktif. Agar tidak perlu lagi ada cerita mengenai warga yang diperlakukan tidak manusiawi oleh rumah sakit karena tidak punya uang membayar biaya, tidak perlu lagi birokrasi mempersulit urusan perijinan. Tak perlu lagi ada anak putus sekolah karena tak kuat membayar dan apalagi bangga karena memakai produk luar negeri. Dan sungguh, jangan ada lagi praktik bisnis yang justru memanfaatkan kelemahan masyarakat demi keuntungannya sendiri. Mari, Cinta Produk Indonesia mulai hari ini juga.(aryadji)

Foto:www.tourtoraja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*