Banting Setir dari Wakil Manajer Supermarket Ke Produk Desa Sapu Sabut Kelapa

Banting Setir dari Wakil Manajer Supermarket Ke Produk Desa Sapu Sabut Kelapa

BERDESA.COM – Usianya masih muda, tapi keberaniannya cukup luar biasa. Dia mengajukan pengunduran diri dari jabatan wakil manajer supermarket ber-omzet puluhan juta sehari lalu tinggal di desa dan melahirkan produk desa berupa sapu sabut kelapa. Dari mengolah buah kelapa kini produknya kian beragam dan usahanya semakin besar saja.

Namanya Angjarmukti, 32 tahun, lulusan Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto yang beberapa bulan ini berganti jabatan dari Wakil Manajer supermarket menjadi bakul sapu sabut kelapa. Rumah produksinya di wilayah pedesaan RT 26 RW 02, Desa Bantarwuni, KEmbaran, Banyumas. Dalam beberapa bulan, Angjar yang hanya bermodal kecil telah mempekerjakan tujuh orang pemuda setempat.

Keberaniannya meninggalkan pekerjaan yang memberinya pendapatan cukup itu dia lakukan karena ketertarikannya pada wirausaha. “ Saya sudah berbulan-bulan mempelajari peluang mengolah kelapa dan saya yakin ini bisa menopang hidup. Sebenarnya ide ini sederhana, bahkan sudah diajarkan di Pramuka sejak kita SD,” kata bapak satu anak itu kepada Berdesa.com. Kelapa memang simbol Pramuka, pelajaran ektrakulikuler ketika SD dan SMP. Kenapa kelapa, karena hampir semua bagian dari pohon kelapa memiliki nilai manfaat yang hebat. Inilah sumber inspirasi produk desa seorang Angjar.

Awalnya Angjar membeli 1000 butir buah kelapa di wiayah pedesaan di sekitar tempat tinggalnya. Cara ini membuat warga sekitar mendapatkan pasar untuk buah kelapa mereka. Begitu terkumpul, di pisahkannya sabut lalu dibuatlah sabut untuk bahan sapu. Agar cantik, sabut itu diberi aneka warna. Kini Angjar memproduksi minimal 3000 biji sapu sabut kepala dalam sebulan. Sapu-sapu itu dijualnya 8 – 10 ribu per biji pada pedagang. “ Kami masih menggunakan alat manual yakni parut untuk mendapatkan sabut kelapa. Ini benar-benar produk desa karena semuanya kami kerjakan di desa,” kata dia. Itu baru sabutnya.

Angjar lalu mengolah batok kelapa menjadi briket, kadang menjadi bubuk untuk campuran obat nyamuk. “ Tergantung pesanan, yang pasti selalu ada yang datang memesan,” kata dia. Angjar masih mengolah daging kelapanya dengan cara di oven yang hasilnya dipakai membuat minyak goreng. “ Lalu air kelapanya saya buat nata de coco,” katanya. Alhasil, dari satu jenis bahan baku Angjar memproduksi beberapa turunan produk sekaligus.

Saat ini Angjar sedang bersiap meningkatkan produksi usahanya dengan menggunakan mesin. Soalnya, akan membuat biaya produksi lebih irit dan tenaga kerjanya bisa mengerjakan bagian yang lain.” Jika sudah pakai mesin, saya bisa merekrut orang lebih banyak lagi untuk mengerjakan sapu dan lainnya. Hasilnya juga bakal lebih rapi sabutnya,” katanya.

Anehnya, Angjar tidak menganggap persaingan adalah hal yang rumit. Di kampungnya Angjar malah mengajari para tetangga untuk mengolah kelapa sebagaimana yang dia lakukan. Sehingga dalam beberapa bulan kini kampungnya bisa memproduksi sedikitnya 9000 biji sapu yang kemudian dijual oleh sebagian warga ke berbagai tempat pemasaran. “ Saya malah senang semakin banyak orang memproduksi sapu. Sehingga produk desa kami bisa lebih gampang dikenal di sana-sini. Faktanya kami semua bisa berjalan bersama,” ujar lulusan ilmu sosial ini.

Angjar membuktikan keputusannya meninggalkan pekerjaan bergengsi itu terbayar dengan setimpal bahkan jauh lebih baik. “ Saya tetap lebih memilih pekerjaan ini daripada pekerjaan yang dulu (wakil manajer minimarket)”. Selain pendapatannya lebih baik, Angjar juga bisa melahirkan produk desa yang bisa membantu hidup banyak orang di kampungnya.(dji-1).

foto: berdesa dok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*