Anak Muda Kreatif, Membangun Usaha di Desa Bermodal Drum Bekas

Anak Muda Kreatif, Membangun Usaha di Desa Bermodal Drum Bekas

Berdesa.com – Siapa bilang anak muda tidak bisa mendapatkan uang banyak di desa? Simak saja langkah Ade Wahyudi ini. Pemuda Desa Alaswangi, Menes, Pandeglang, Banten ini membuat langkah besar hanya bermodalkan drum bekas. Ade menyulap drum-drum bekas menjadi aneka produk artistik nan unik seperti kursi, meja, almari dan beragam tong aneka fungsi.

Sebelum menekuni urusan dengan drum bekas, pemuda kelahiran 1988 ini sebenarnya sudah bekerja sebagai tenaga honorer di salahsatu kantor kementerian di Jakarta. Adi lalu nekat memutuskan pulang ke kampungnya dan yakin bisa membangun masa depan di kampung. Dari berbagai pilihan Adi lalu jatuh cinta pada drum bekas dan mulai mengolah kreativitasnya 2016 lalu.

Adi membentuk kelompok anak muda dan menamakan kelompoknya Distric of Art (DoA) dan mulai menyulap drum-drum bekas menjadi aneka produk dengan fungsi baru. Ditangan Adi dan ‘geng’-nya, drum nekas yang tadinya berserakan, kotor dan membingungkan banyak orang karena tidak gampang diolah selain jadi tong sampah itu berubah wujud menjadi sofa, kursi dan beragam barang interior yang berfungsi maksimal sekaligus artistik.

Uniknya bentuk drum, bahannya yang kuat bin awet itu tak butuh waktu lama menyedot rasa tertarik orang. Hanya dalam beberapa minggu Adi mendapatkan pesanan dari berbagai daerah seperti Depok, Serang, Nogor dan Pandeglang sendiri. Umumnya pemesan adalah usaha seperti kafe, hotel dan sebagainya. Tapi tak jarang warga biasa yang memiliki cita-rasa seni tinggi membeli produk-produk ‘made in’ DoA.

Dalam memasarkan produknya Adi menggunakan jaringan online untuk meraih banyak peminat produknya. Alhasil, pesananpun berdatangan dan pasukan DoA yang tadinya hanya digawangi 6 orang terus bertambah sehingga kini sediktinya 25 orang pemuda aktif bekerja didalam paying DoA. Adi membuktikan, ide uniknya tak hanya menghasilkan uang untuknya hidup tetapi juga membuka lapangan kerja. Tak main-main, lapangan kerja yang dibuka Adi ini sangat kekinian karena berbasis kreativitas dan pemasarannya bergerak secara modern.

Adi memilih memilih mengurus drum bekas bukan tanpa visi. Selain menghasilkan uang, pekerjaan ini juga sangat disukai anak-anak muda. Pasarnya pun terus meluas seiring kreativitas yang mereka telurkan. Kreatinitas itulah yang membuat karya anak-anak DoA memikat hati Bupati Pandeglang dan artis Dik Doank yang juga aktivis sosial. Maka produk anak-anak DoA semakin dikenal orang. Saat ini dalam sebulan mereka menciptakan laba di atas Rp. 30 juta.

Selain membuka lapangan kerja, pengolahan drum bekas menjadi produk bernilai seni dan ekonomi ini juga membawa Adi mendapatkan banyak penghargaan. Soalnya, apa yang dilakukannya bukan hanya menghasilkan income bagi banyak orang tetapi juga sebuah aksi yang memiliki manfaat besar bagi lingkungan karena mengolah limbah yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai. Atas prakarsanya itulah Adi mendapatkan gelar Juara Pemuda Pelopor dari Provinsi Banten. Adi juga sering terpilih menjadi pemenang pada pemilihan para pemuda kreatif yang digelar di tingkat nasional.

Sepak terjang DoA juga terus mengembang. Dari kelompok pengolah drum bekas kini DoA merambah berbagai bidang lain dengan visi besarnya ‘desa membangun. DoA menginisiasi pergerakan kreatif pemuda desa dengan menggelar diskusi mengenai berbagai potensi yang bisa dilakukan para pemuda desa berdasar kekuatan potensi desanya masing-masing. Jadi, tanpa ba-bi-bu, para pemuda ini telah melakukan beragam langkah membangun desanya dan terbukti mereka berhasil menciptakan banyak langkah dari sana. Bagaimana dengan pemuda di desa Anda ? (adji/berdesa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*