3 Aspek Untuk Klasifikasi Desa Menurut Daldjoeni

0
65
3 Aspek Untuk Klasifikasi Desa Menurut Daldjoeni

Klasifikasi atau penggolongan desa didasarkan pada beberapa aspek yang ada pada desa. Termasuk Klasifikasi Desa Menurut Daldjoeni yang juga menggunakan beberapa aspek untuk menggolongkan desa. Nathaniel Daldjoeni atau yang lebih dikenal dengan N.Daldjoeni adalah salah satu ilmuwan geografi di Indonesia yang membagi desa menjadi beberapa klasifikasi.

Klasifikasi yang disebutkan oleh Daldjoni didasari dari 3 aspek yang ada pada desa. Dari aspek-aspek tersebut terbagilah desa menjadi beberapa klasifikasi. Berikut 3 aspek yang digunakan dalam Klasifikasi Desa Menurut Daldjoeni, yaitu :

1. Kegiatan Pokok Masyarakat

Kegiatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat menjadi aspek yang dipilih untuk mengklasifikasi desa. Aktifitas rutin masyarakat berbeda di setiap desanya, aktifitas yang dimaksud adalah kegiatan atau pekerjaan yang dijalani oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Menurut Daldjoeni, klasifikasi dari aspek ini dibagi menjadi 4 yaitu :

Desa Agrobisnis

Desa agrobisnis adalah desa yang kebanyakan penduduknya melakukan kegiatan produksi, pengolahan dan distribusi hasil pertanian sendiri. Jenis hasil pertanian yang didistribusikan bisa berupa hasil panen sawah seperti tanaman palawija, hasil kebun buah, atau peternakan.

Baca Juga  Klasifikasi Desa Berdasarkan Kegiatan Pokok Yang Dilakukan Masyarakat

Desa Agroindustri

Desa agroindustri adalah desa yang penduduknya kebanyakan melakukan kegiatan pengolahan bahan mentah hasil pertanian. Seperti industri makanan dan minuman. Bahan hasil pertanian akan diolah menjadi barang matang yang siap konsumsi atau barang setengah jadi.

Desa Pariwisata

Desa pariwisata adalah desa yang memiliki objek wisata menarik untuk dijadikan tempat liburan. Objek wisata itu bisa berupa pemandangan pegunungan, air terjun, tempat bersejarah, atau tempat lain yang bisa menarik perhatian orang untuk mengunjunginya.

Desa Industri Non Pertanian

Desa dalam klasifikasi ini adalah desa yang penduduknya melakukan kegiatan produksi barang bukan hasil pertanian. Seperti industri barang elektronik atau hasil tambang.

2. Tingkat Kemampuan Desa

Kemampuan disetiap desa berbeda, dipengaruhi oleh pola pikir penduduk dan keterbukaan terhadap hal dari luar desa. Berdasarkan tingkat kemampuan, Daldjoeni membedakan klasifikasi desa menjadi 3 yaitu :

Desa Swadaya

Desa swadaya adalah desa yang masyarakatnya mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dengan apa yang disediakan alam. Desa ini masih tradisional dan hanya memproduksi secukupnya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya.

Baca Juga  Pengumuman: Januari 2018 Program Padat Karya Dimulai

Desa Swakarya

Desa ini lebih maju jika dibandingkan dengan desa swadaya. Masyarakatnya sudah bisa memanfaatkan hasil produksi yang berlebih untuk dijual ke desa lain. Interaksi ke luar desa mulai ada dan desa mulai berkembang.

Desa Swasembada

Desa swasembada adalah desa yang sudah mampu memanfaatkan dan mengolah potensi yang ada di desa dengan optimal. Kemampuan desa ini bisa digunakan untuk mengembangkan desanya.

3. Potensi Desa

Disetiap desa pasti ditemukan sebuah potensi yang bisa dikembangkan. Potensi ini bisa berupa sumber daya alam ataupun sumber daya manusia. Daldjoeni membagi klasifikasi desa dari aspek potensi ini menjadi 3 yaitu :

Desa Berpotensi Tinggi

Desa yang memiliki potensi tinggi biasanya berada di perbatasan kota. Karena desa yang terletak tidak jauh dari kota akan lebih mudah terpengaruh oleh tatanan hidup dikota yang dinamis. Yang berpengaruh pada pengembangan potensi desa yang lebih cepat.

Desa Berpotensi Sedang

Desa berpotensi sedang adalah desa yang masih dalam proses pemahaman pengaruh luar desa. Desa ini sudah mampu mengembangkan potensi tapi belum optimal karena kurangnya pengetahuan untuk mengolah. Biasanya desa seperti ini terletak cukup jauh dari kota sehingga pengaruh dari luar desa sedikit terhambat.

Baca Juga  Kartu Tani, Apakah Itu?

Desa Berpoteni Rendah

Desa yang berpotensi rendah bukan berarti desa tidak memiliki potensi apapun. Dikatakan rendah karena potensi yang ada tidak dimanfaatkan dengan optimal oleh penduduk desa.

Beberapa Klasifikasi Desa Menurut Daldjoeni ini memang cukup berbeda dari klasifikasi desa pada umumnya. Tapi pada dasarnya memiliki kesimpulan klasifikasi yang sama. Desa sebagai penyangga kota harus bisa mengoptimalkan potensi yang ada agar kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dikota bisa terpenuhi dan penduduk desa bisa mendistribusikan produksinya dengan lancar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here