2017, BUMDesa Bisa Fokus Pemberdayaan

2017, BUMDesa Bisa Fokus Pemberdayaan

BERDESA.COM- Salahsatu keluhan yang paling banyak terlontar dari aparat desa soal BUMDesa adalah mengenai keterbatasan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mereka miliki. Tetapi kegelisahan itu direspon Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), tahun 2017 Kementerian Desa menegaskan sebagian besar dana desa bakal diperuntukkan menggenjot pemberdayaan.

“ Tahun ini dana desa 90 persen untuk pembangunan infrastruktur tetapi depan (2017) dana desa bakal lebih banyak untuk pemberdayaan,” kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo dalam Rembuk Nasional di Jakarta, beberapa waktu lalu. Pernyataan itu merespon situasi sebagian desa yang masih berhadapan dengan masalah SDM sebagai orang-orang yang akan menggerakkan BUMDesa. Apa yang harus dilakukan para punggawa BUMDesa?

Salahsatu persoalan yang terjadi di desa adalah masyarakat desa tidak memiliki aksesibilitas untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai dunia luar desanya. Padahal sekarang ini sesungguhnya beragam informasi sangat mudah didapatkan melalui berbagai saluran informasi khususnya internet. Padahal lagi, jumlah pengguna internet di Indonesia bukan main-main besarnya, 90-an juta orang mengakses internet setiap hari. Sayangnya masih sangat sedikit yang memanfaatkannya untuk mendapatkan asupan informasi produktif untuk membangun peningkatan produktivitas diri.

Masalah lainnya adalah tidak terjalinnya hubungan yang terbuka antara warga satu desa dengan desa yang lain mengenai aset dan potensinya. Akibatnya, warga desa A yang sebagian besar bergerak di bidang pertanian tidak tahu bahwa desa sebelahnya sangat membutuhkan komoditas yang dihasilkan si A dan sebaliknya. Sekat ini harus diruntuhkan agar semua orang, terutama warga desa menjadi tahu bahwa desa sebelahnya memiliki produk yang mereka butuhkan.

Salahsatu akibat dari kurangnya asupan informasi ini sebagian desa kemudian memilih mengadopsi program desa lain untuk dijalankan BUMDesa-nya padahal belum tentu desanya cocok menjalankan program itu misalnya membangun bank sampah. Bank sampah seharusnya dibangun karena situasi desa dalam kondisi ‘darurat sampah’ misalnya di desa-desa pinggiran kota yang sebagian warganya tidak memiliki lahan yang cukup untuk mengelola sampahnya sendiri. Jadi, jangan sampai BUMDesa sebuah desa memutuskan membuat program bank sampah hanya karena program itu banyak dilakukan desa lain dan berjalan baik.

Ketua LMD Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta, Sukarmin menyatakan, desanya tidak memasukkan bank sampah sebagai kebutuhan urgen saat ini karena warga desanya masih memiliki lahan yang bisa membuat mereka mengelola sampahnya di tingkat rumah tangga. “ Yang terpenting justru bagaimana mengajarkan pada masyarakat mengenai bagaimana mengelola sampah sebaik-baiknya. Kami tidak mau BUMDesa malah berfungsi sebagai terminal sampah,” katanya.

Sukarmin justru melihat yaang paling penting untuk dilakukan desanya saat ini adalah menyerap pengetahuan sebanyak-banyaknya sehingga memiliki warga yang punya kemampuan menjalankan BUMDesa. “ Makanya sangat penting bagi kami mengikuti berbagai pelatihan BUMDesa dari mulai masalah kebijakan, proses pembuatan hingga bagaimana merancang unit usaha dan menyiapkan sistem manajemennya nanti. Kami harus punya orang-orang muda yang memiliki kemampuan-kemampuan itu,” kata Sukarmin disela Pelatihan BUMDesa Nasional di Hotel Dafam, Yogyakarta, akhir November lalu.

Mengikuti program pelatihan, kata Sukarmin, adalah cara yang paling efektif mendapatkan asupan materi yang sangat dibutuhkan. “ Pelatihan membuat kita langsung mendapatkan simpulan-simpulan dari pengalaman desa lain dan sebagainya sehingga tidak perlu trial and error,” katanya. Dari serapan materi itu warga desa yang telah ditunjuk menjalankan BUMDesa bakal tinggal mengaplikasikan apa yang dia dapatkan. “ Jadi tidak perlu memulai dari nol, pelatihan juga membuat kita mendapatkan banyak informasi mengenai hambatan dan tantangan membangun BUMDesa, ini jauh lebih murah daripada memulai sendiri usaha dengan resiko gagal,” kata Sukarmin.

Ada banyak pelatihan  BUMDesa yang dielar berbagai lembaga termasuk tentu saja pemerintah. “ Misalnya pelatihan yang digelar kerjasama antara Usahadesa.com dengan beberapa lembaga itu.” Mengikuti pelatihan BUMDesa dalam beberapa hari saja memberikan banyak pandangan baru mengenai apa yang harus dilakukan untuk menjalankan BUMDesa kami sendiri,” katanya.

Mengikuti pelatihan juga bakal mempertemukan para pengurus BUMDesa dari berbagai daerah sehingga bisa bertukar pengalaman dan ide usaha. “ Dari situ hubungan baik antardesa bisa ditingkatkan menjadi kerjasama usaha antarBUMDesa,” katanya. (aryadji/berdesa)

Foto: www.rmoljabar.com

alterntif text

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan disebarkan.Kolom yang ditandai wajib diisi *

Anda dapat menggunakan HTML tag dan atribut: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*